Dari
Gadis Pemalu Menjadi Pemimpin Muda: Kisah Givara Dewi Merlyana Menginspirasi
Generasi PMR Grobogan
Grobogan – Setiap pemimpin
memiliki cerita tentang bagaimana mereka memulai. Ada yang lahir dengan rasa
percaya diri tinggi, namun ada pula yang tumbuh melalui proses panjang penuh
tantangan. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Givara Dewi Merlyana,
siswi SMA Negeri 1 Gabus, yang berhasil membuktikan bahwa keberanian
untuk mencoba mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang menginspirasi.
Perjalanan Givara di Palang Merah
Remaja (PMR) dimulai sejak duduk di bangku kelas VII di MTs Negeri 2 Grobogan.
Ketertarikannya terhadap dunia medis menjadi alasan utama bergabung dengan PMR.
Baginya, organisasi ini bukan hanya tempat belajar pertolongan pertama, tetapi
juga ruang untuk menambah wawasan, membangun karakter, dan mengasah kepedulian
terhadap sesama.
Di balik semangatnya, ada sosok yang
memiliki peran besar dalam perjalanan tersebut, yaitu Bapak Zakaria, guru
sekaligus pembina PMR di MTs Negeri 2 Grobogan. Melalui bimbingan dan
motivasinya, Givara semakin yakin bahwa PMR adalah tempat terbaik untuk
mengembangkan potensi dirinya.
"Beliau selalu memberikan semangat
dan mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan medis,
tetapi juga tentang kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab," ungkap
Givara.
Belajar Mengalahkan
Rasa Minder
Pengalaman pertama mengikuti kegiatan
PMR menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan. Suasana latihan yang penuh
semangat, kebersamaan, dan praktik langsung membuatnya semakin mencintai
organisasi ini.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu
mudah. Saat menjadi anggota baru, Givara harus menghadapi tantangan dalam
membagi waktu. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia masih harus mengikuti
kegiatan madrasah sehingga waktu istirahatnya sangat terbatas.
Meski demikian, ia tidak pernah
menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari situlah
ia belajar pentingnya disiplin dan manajemen waktu.
Pelajaran paling berharga yang
diperolehnya adalah arti kerja sama tim. Menurutnya, tidak ada keberhasilan
yang dapat diraih sendirian. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, dan
semangat untuk saling membantu.
Perubahan terbesar dalam dirinya
terjadi ketika ia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu.
"Saya pernah menjadi anak yang
minder. Tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Dari situ perlahan
rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.
Memimpin dengan
Semangat Kemanusiaan
Keaktifan mengikuti berbagai pelatihan,
keberanian tampil, serta konsistensinya dalam kegiatan PMR mengantarkan Givara
dipercaya memimpin organisasi.
Saat pertama kali mendapatkan amanah
sebagai pemimpin, ia mengaku sempat merasa ragu. Namun, ia memilih untuk
mengalahkan keraguan itu dengan terus belajar dan percaya pada kemampuan diri
sendiri.
Sebagai pemimpin, Givara memiliki visi
mewujudkan PMR yang aktif, disiplin, berkarakter, dan berjiwa kemanusiaan. Visi
tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menitikberatkan pada
peningkatan keterampilan anggota, kerja sama tim, pelatihan rutin, penguatan
empati, hingga kolaborasi bersama PMI dan sekolah.
Salah satu program yang paling ia
banggakan adalah PMR Goes to School, yaitu kegiatan edukasi kesehatan
dan pertolongan pertama kepada siswa SD dan SMP. Melalui program ini, anggota
PMR tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menjadi pendidik bagi
generasi yang lebih muda.
Agar anggota tetap aktif, Givara
memilih pendekatan yang menyenangkan.
"PMR harus menjadi tempat yang
seru. Banyak praktik langsung, banyak belajar bersama, sehingga anggota merasa
nyaman dan ingin terus berkembang," katanya.
Menempa Mental Lewat
Berbagai Tantangan
Menjadi pemimpin organisasi lintas
sekolah tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering ia
hadapi adalah masih rendahnya minat siswa laki-laki untuk bergabung dengan PMR.
Namun, tantangan tersebut tidak pernah
membuatnya menyerah.
"Saya selalu berpegang pada
prinsip pantang menyerah. Kalau kita yakin dan percaya diri, pasti akan ada
jalan untuk berkembang," tuturnya.
Dalam menghadapi konflik antaranggota,
Givara lebih memilih jalan musyawarah. Baginya, setiap masalah dapat
diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan keputusan yang adil.
Kemampuan mengatur waktu juga menjadi
salah satu kunci keberhasilannya. Ia selalu membuat jadwal kegiatan agar tidak
berbenturan dengan aktivitas sekolah maupun organisasi.
Bahkan, di tengah kesibukannya, ia
tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada adik-adik PMR sebagai bentuk
pengabdian kepada organisasi yang telah membesarkan dirinya.
Momen yang Mengubah
Hidup
Di antara banyak kegiatan yang pernah
diikuti, Konferensi Koordinator Kabupaten (Korkab) menjadi pengalaman yang
paling berkesan. Dalam kegiatan tersebut, Givara menghadapi tantangan public
speaking menggunakan bahasa Inggris yang benar-benar menguji mental dan
kepercayaan dirinya.
Namun, justru dari tantangan itulah
lahir salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Ia terpilih sebagai Koordinator
Kabupaten (Korkab) PMR Kabupaten Grobogan.
"Saat nama saya diumumkan menjadi
Korkab, rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bersyukur. Itu menjadi
salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan," kenangnya.
Selain aktif dalam berbagai kegiatan
seperti Jumbara, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), konferensi PMR, pelatihan
pertolongan pertama, pelayanan kesehatan remaja, hingga berbagai kegiatan
kemanusiaan lainnya, Givara juga sering bertugas di Unit Kesehatan Sekolah
(UKS).
Ia bersama tim PMR beberapa kali
membantu siswa yang mengalami pingsan, dehidrasi, nyeri haid, hingga gangguan
lambung (GERD), serta menjadi bagian dari tim medis saat upacara dan berbagai
kegiatan sekolah.
Pengalaman-pengalaman tersebut
mengajarkannya bahwa seorang relawan harus mampu tetap tenang dalam situasi
darurat sekaligus memberikan rasa aman bagi orang yang membutuhkan pertolongan.
PMR Membentuk Masa
Depan
Selama aktif di PMR, Givara merasakan
perubahan besar dalam dirinya. Dari sosok yang pemalu, kini ia menjadi pribadi
yang percaya diri, mampu berbicara di depan umum, menjadi master of ceremony
(MC), memimpin organisasi, hingga memiliki kemampuan pertolongan pertama yang
semakin baik.
Karakter disiplin, tanggung jawab, dan
kerja sama tim juga tumbuh seiring perjalanan yang dijalani.
Semua itu tidak lepas dari dukungan
orang-orang terdekat. Orang tua menjadi penyemangat utama yang selalu
memberikan motivasi, sementara para pembina menjadi mentor yang membimbing
setiap langkahnya. Teman-teman PMR juga menjadi keluarga kedua yang saling
mendukung dalam setiap kegiatan.
Meski bercita-cita menjadi seorang
pengacara, Givara meyakini bahwa pengalaman di PMR akan menjadi bekal penting
untuk masa depannya. Kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi,
dan rasa percaya diri merupakan modal berharga yang akan selalu ia bawa.
Di akhir perbincangan, Givara
menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi seluruh anggota PMR dan
pelajar Indonesia.
"Jangan pernah takut mencoba hal
baru. Teruslah belajar, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah meremehkan
diri sendiri. Percaya pada kemampuan yang kita miliki, karena setiap orang
memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi
orang lain."
Perjalanan Givara Dewi Merlyana
membuktikan bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan
tempat lahirnya calon-calon pemimpin muda yang memiliki kepedulian, keberanian,
dan semangat kemanusiaan. Dari seorang remaja yang dahulu merasa minder, kini
ia berdiri sebagai sosok yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus
melayani, belajar, dan bertumbuh.










.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar