Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR
Grobogan
– Tidak semua pemimpin lahir dengan keberanian. Ada yang memulai langkahnya
dengan rasa takut, tangan yang gemetar, bahkan air mata. Namun, keberanian
sejati bukanlah tidak pernah merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa
takut itu ada. Itulah perjalanan yang dialami Firstaletisha Arrazzaq Aliswa,
siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, yang kini dikenal sebagai sosok pemimpin
muda di Palang Merah Remaja (PMR).
Perjalanan Firsta di PMR dimulai pada 24
Juli 2024, saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota PMR Wira SMK Negeri
1 Purwodadi. Keinginannya sederhana, yaitu mempelajari dasar-dasar
pertolongan pertama agar mampu membantu orang lain ketika membutuhkan bantuan
medis dasar.
Keputusan tersebut juga lahir dari
inspirasi orang-orang terdekatnya. Kakak senior di PMR dan sang ibu menjadi
sosok yang terus memberikan dorongan agar ia berani mencoba hal baru dan
mengembangkan potensi dirinya.
Belajar dari Nol
Bagi Firsta, bergabung dengan PMR
adalah pengalaman yang benar-benar baru. Semasa SMP, ia belum pernah mengikuti
organisasi ataupun kegiatan ekstrakurikuler.
"Awalnya saya deg-degan sekali.
Saya pikir PMR hanya menghafal materi sambil bersenang-senang. Ternyata saya
belajar jauh lebih banyak, mulai dari pertolongan pertama, etika, cara
berkomunikasi, hingga bagaimana menjadi anggota yang profesional,"
kenangnya.
Materi yang banyak dan latihan praktik
yang terus dilakukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses
itulah ia memperoleh pelajaran yang paling membekas.
"Tanggap itu kebiasaan, bukan
bakat. Kalau ingin sigap membantu orang lain, kita harus terus belajar dan
berlatih sampai menjadi refleks," ujarnya.
Kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika
dipercaya menjadi ketua kelompok dalam sebuah permainan saat kegiatan PMR.
Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal ia menyadari bahwa setiap orang
memiliki potensi untuk memimpin.
Ketika
Air Mata Mengiringi Amanah
Menjadi Ketua PMR bukanlah cita-cita
yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, saat namanya ditunjuk sebagai
calon ketua, rasa takut langsung menguasai dirinya.
"Saya panik, gemetar, bahkan sempat
mengalami panic attack. Saya sudah berniat mengundurkan diri karena merasa
tidak mampu," tuturnya.
Namun, di saat itulah sang ayah
memberikan nasihat yang mengubah cara pandangnya.
Beliau meyakinkan bahwa kepemimpinan
adalah bekal penting untuk masa depan dan kesempatan seperti itu tidak datang
kepada semua orang. Dukungan tersebut membuat Firsta mengurungkan niatnya untuk
mundur dan memilih bertahan.
Setelah melalui beberapa kali proses
seleksi bersama para pembina, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua PMR Wira SMK
Negeri 1 Purwodadi.
Momen orasi di depan seluruh anggota PMR menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.
"Saya benar-benar gemetar. Sampai
meminta teman memegang tangan saya supaya tidak terlalu tremor saat berbicara
di depan semua orang," kenangnya sambil tersenyum.
Di balik keberhasilannya hari ini,
tersimpan cerita tentang seorang remaja yang pernah menangis karena merasa
belum pantas menjadi pemimpin.
Membangun PMR yang
Aktif dan Peduli
Sebagai Ketua PMR, Firsta memiliki visi
menjadikan PMR sebagai wadah kreativitas dan pembelajaran di bidang kesehatan
sekaligus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, teladan,
dan solid.
Visi tersebut diwujudkan melalui
beberapa misi utama, di antaranya memperkuat kerja sama berdasarkan Tujuh
Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Tri Bhakti PMR,
meningkatkan keterampilan pertolongan pertama, dan membangun PMR yang sigap
terhadap kondisi kesehatan warga sekolah.
Salah satu program yang paling ingin ia
wujudkan adalah Latihan Gabungan (Latgab) bersama berbagai sekolah.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengalaman,
bertukar ilmu, dan mempererat persaudaraan antaranggota PMR.
Agar anggota tetap bersemangat
mengikuti kegiatan, ia memilih pendekatan yang menyenangkan.
"Setelah penyampaian materi, kami
sering mengadakan permainan edukatif dan memberikan doorprize. Belajar akan
terasa lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama," katanya.
Belajar Menjadi
Pemimpin, Bukan Sekadar Mengatur
Menjadi pemimpin ternyata tidak selalu
mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membangun komunikasi yang baik
dengan seluruh anggota.
Ia juga pernah mengalami perbedaan
pendapat dengan pengurus inti hingga sempat merasa ingin menyerah. Selain itu,
mencari metode penyampaian materi yang tidak membosankan juga menjadi tantangan
tersendiri.
Namun, setiap konflik selalu
diselesaikan melalui dialog.
"Saya memilih mengajak kedua belah
pihak berbicara, mendengarkan semua pendapat, lalu mencari solusi yang paling
adil."
Bagi Firsta, menjadi pemimpin berarti
siap menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut belum tentu sepenuhnya
menjadi kesalahannya. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang
lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih bertanggung jawab.
Ketika Ilmu PMR
Menjadi Penolong
Salah satu pengalaman yang paling
membekas terjadi saat ia sedang bertugas mengatur jadwal piket anggota di Unit
Kesehatan Sekolah (UKS).
Tiba-tiba seorang siswa datang dalam
kondisi terluka akibat kecelakaan.
Melihat korban menangis kesakitan,
Firsta berusaha tetap tenang. Ia membersihkan luka, memberikan pertolongan
pertama, kemudian membalut luka sambil terus menenangkan korban agar tidak
panik.
"Di saat seperti itu saya sadar,
ilmu yang saya pelajari di PMR benar-benar berguna. Kita tidak hanya belajar
teori, tetapi juga bisa langsung membantu orang lain."
Momen lain yang membuatnya sangat
terharu terjadi saat menjadi penanggung jawab kegiatan pengukuhan anggota baru.
Di balik rasa bingung, tekanan, dan
tanggung jawab besar yang harus dipikul, acara akhirnya berjalan lancar hingga
selesai.
"Sore itu saya menangis karena
lega. Rasanya semua perjuangan terbayar ketika melihat acara berjalan dengan
baik."
Selain aktif di sekolah, Firsta juga
terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti penggalangan dana bagi korban
bencana di Aceh serta membantu kegiatan skrining kesehatan bersama PMI
Kabupaten Grobogan.
PMR Mengubah Cara
Pandang Hidup
Menurut Firsta, pengalaman menjadi Ketua
PMR telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Ia belajar bahwa tidak ada pemimpin
yang bisa bekerja sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja
sama, komunikasi, dan kesabaran.
Bersama PMR SMK Negeri 1 Purwodadi, ia
juga berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara I Lomba
Pertolongan Pertama, Juara Harapan III Lomba Cerdas Cermat Kemanusiaan,
serta Juara III Lomba Pentas Seni Edukasi Donor Darah.
Salah satu inovasi yang paling ia
banggakan adalah program PMR Peduli Aceh, yaitu penggalangan dana
kemanusiaan yang melibatkan PMR, MPK, OSIS, dan seluruh warga sekolah. Dana
yang terkumpul kemudian disalurkan melalui PMI Kabupaten Grobogan sebagai
bentuk nyata kepedulian terhadap korban bencana.
Program tersebut menjadi bukti bahwa
PMR bukan hanya aktif di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu hadir membantu
masyarakat yang membutuhkan.
Tumbuh Menjadi
Pribadi yang Lebih Baik
Bergabung dengan PMR telah membawa
perubahan besar dalam diri Firsta.
Ia yang dahulu kurang peduli terhadap
kesehatan kini menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, tenang
menghadapi situasi darurat, serta memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi,
dan pertolongan pertama yang terus berkembang.
Semua itu tidak lepas dari dukungan
orang tua, keluarga, para pembina, sahabat, dan teman-teman yang selalu menjadi
penyemangat dalam setiap langkahnya.
Meski bercita-cita menjadi seorang
dokter, Firsta yakin bahwa nilai-nilai yang ia pelajari di PMR akan menjadi
bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan
pesan kepada seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.
"Selamat menuntut ilmu. Jangan
pernah takut belajar dan jangan malu bertanya ketika belum memahami sesuatu.
Kemanusiaan adalah tentang memberikan pertolongan kepada siapa pun tanpa
membeda-bedakan. Jadilah generasi yang peduli, karena kepedulian adalah
kekuatan yang mampu mengubah masa depan."
Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa
membuktikan bahwa pemimpin hebat tidak selalu lahir dari keberanian yang
sempurna. Terkadang, mereka adalah orang-orang yang pernah takut, pernah
menangis, namun memilih tetap melangkah. Dari keberanian itulah lahir semangat
kemanusiaan yang akan terus menginspirasi generasi PMR untuk belajar, mengabdi,
dan menjadi penolong bagi sesama.













0 comments:
Posting Komentar