iklan

iklan

Sabtu, 11 Juli 2026

Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

 


Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

Grobogan – Tidak semua pemimpin lahir dengan keberanian. Ada yang memulai langkahnya dengan rasa takut, tangan yang gemetar, bahkan air mata. Namun, keberanian sejati bukanlah tidak pernah merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Itulah perjalanan yang dialami Firstaletisha Arrazzaq Aliswa, siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, yang kini dikenal sebagai sosok pemimpin muda di Palang Merah Remaja (PMR).

Perjalanan Firsta di PMR dimulai pada 24 Juli 2024, saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi. Keinginannya sederhana, yaitu mempelajari dasar-dasar pertolongan pertama agar mampu membantu orang lain ketika membutuhkan bantuan medis dasar.

Keputusan tersebut juga lahir dari inspirasi orang-orang terdekatnya. Kakak senior di PMR dan sang ibu menjadi sosok yang terus memberikan dorongan agar ia berani mencoba hal baru dan mengembangkan potensi dirinya.


Belajar dari Nol

Bagi Firsta, bergabung dengan PMR adalah pengalaman yang benar-benar baru. Semasa SMP, ia belum pernah mengikuti organisasi ataupun kegiatan ekstrakurikuler.

"Awalnya saya deg-degan sekali. Saya pikir PMR hanya menghafal materi sambil bersenang-senang. Ternyata saya belajar jauh lebih banyak, mulai dari pertolongan pertama, etika, cara berkomunikasi, hingga bagaimana menjadi anggota yang profesional," kenangnya.

Materi yang banyak dan latihan praktik yang terus dilakukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah ia memperoleh pelajaran yang paling membekas.

"Tanggap itu kebiasaan, bukan bakat. Kalau ingin sigap membantu orang lain, kita harus terus belajar dan berlatih sampai menjadi refleks," ujarnya.

Kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika dipercaya menjadi ketua kelompok dalam sebuah permainan saat kegiatan PMR. Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memimpin.

Ketika Air Mata Mengiringi Amanah

Menjadi Ketua PMR bukanlah cita-cita yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, saat namanya ditunjuk sebagai calon ketua, rasa takut langsung menguasai dirinya.

"Saya panik, gemetar, bahkan sempat mengalami panic attack. Saya sudah berniat mengundurkan diri karena merasa tidak mampu," tuturnya.

Namun, di saat itulah sang ayah memberikan nasihat yang mengubah cara pandangnya.

Beliau meyakinkan bahwa kepemimpinan adalah bekal penting untuk masa depan dan kesempatan seperti itu tidak datang kepada semua orang. Dukungan tersebut membuat Firsta mengurungkan niatnya untuk mundur dan memilih bertahan.

Setelah melalui beberapa kali proses seleksi bersama para pembina, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi.

Momen orasi di depan seluruh anggota PMR menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

"Saya benar-benar gemetar. Sampai meminta teman memegang tangan saya supaya tidak terlalu tremor saat berbicara di depan semua orang," kenangnya sambil tersenyum.

Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan cerita tentang seorang remaja yang pernah menangis karena merasa belum pantas menjadi pemimpin.

Membangun PMR yang Aktif dan Peduli

Sebagai Ketua PMR, Firsta memiliki visi menjadikan PMR sebagai wadah kreativitas dan pembelajaran di bidang kesehatan sekaligus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, teladan, dan solid.

Visi tersebut diwujudkan melalui beberapa misi utama, di antaranya memperkuat kerja sama berdasarkan Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Tri Bhakti PMR, meningkatkan keterampilan pertolongan pertama, dan membangun PMR yang sigap terhadap kondisi kesehatan warga sekolah.

Salah satu program yang paling ingin ia wujudkan adalah Latihan Gabungan (Latgab) bersama berbagai sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengalaman, bertukar ilmu, dan mempererat persaudaraan antaranggota PMR.

Agar anggota tetap bersemangat mengikuti kegiatan, ia memilih pendekatan yang menyenangkan.

"Setelah penyampaian materi, kami sering mengadakan permainan edukatif dan memberikan doorprize. Belajar akan terasa lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama," katanya.


Belajar Menjadi Pemimpin, Bukan Sekadar Mengatur

Menjadi pemimpin ternyata tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh anggota.

Ia juga pernah mengalami perbedaan pendapat dengan pengurus inti hingga sempat merasa ingin menyerah. Selain itu, mencari metode penyampaian materi yang tidak membosankan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, setiap konflik selalu diselesaikan melalui dialog.

"Saya memilih mengajak kedua belah pihak berbicara, mendengarkan semua pendapat, lalu mencari solusi yang paling adil."

Bagi Firsta, menjadi pemimpin berarti siap menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut belum tentu sepenuhnya menjadi kesalahannya. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih bertanggung jawab.


Ketika Ilmu PMR Menjadi Penolong

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat ia sedang bertugas mengatur jadwal piket anggota di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Tiba-tiba seorang siswa datang dalam kondisi terluka akibat kecelakaan.

Melihat korban menangis kesakitan, Firsta berusaha tetap tenang. Ia membersihkan luka, memberikan pertolongan pertama, kemudian membalut luka sambil terus menenangkan korban agar tidak panik.

"Di saat seperti itu saya sadar, ilmu yang saya pelajari di PMR benar-benar berguna. Kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa langsung membantu orang lain."

Momen lain yang membuatnya sangat terharu terjadi saat menjadi penanggung jawab kegiatan pengukuhan anggota baru.

Di balik rasa bingung, tekanan, dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, acara akhirnya berjalan lancar hingga selesai.

"Sore itu saya menangis karena lega. Rasanya semua perjuangan terbayar ketika melihat acara berjalan dengan baik."

Selain aktif di sekolah, Firsta juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh serta membantu kegiatan skrining kesehatan bersama PMI Kabupaten Grobogan.

PMR Mengubah Cara Pandang Hidup

Menurut Firsta, pengalaman menjadi Ketua PMR telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia belajar bahwa tidak ada pemimpin yang bisa bekerja sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja sama, komunikasi, dan kesabaran.

Bersama PMR SMK Negeri 1 Purwodadi, ia juga berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara I Lomba Pertolongan Pertama, Juara Harapan III Lomba Cerdas Cermat Kemanusiaan, serta Juara III Lomba Pentas Seni Edukasi Donor Darah.

Salah satu inovasi yang paling ia banggakan adalah program PMR Peduli Aceh, yaitu penggalangan dana kemanusiaan yang melibatkan PMR, MPK, OSIS, dan seluruh warga sekolah. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui PMI Kabupaten Grobogan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap korban bencana.

Program tersebut menjadi bukti bahwa PMR bukan hanya aktif di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.


Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Bergabung dengan PMR telah membawa perubahan besar dalam diri Firsta.

Ia yang dahulu kurang peduli terhadap kesehatan kini menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, tenang menghadapi situasi darurat, serta memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pertolongan pertama yang terus berkembang.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, para pembina, sahabat, dan teman-teman yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya.

Meski bercita-cita menjadi seorang dokter, Firsta yakin bahwa nilai-nilai yang ia pelajari di PMR akan menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Selamat menuntut ilmu. Jangan pernah takut belajar dan jangan malu bertanya ketika belum memahami sesuatu. Kemanusiaan adalah tentang memberikan pertolongan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Jadilah generasi yang peduli, karena kepedulian adalah kekuatan yang mampu mengubah masa depan."

Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa membuktikan bahwa pemimpin hebat tidak selalu lahir dari keberanian yang sempurna. Terkadang, mereka adalah orang-orang yang pernah takut, pernah menangis, namun memilih tetap melangkah. Dari keberanian itulah lahir semangat kemanusiaan yang akan terus menginspirasi generasi PMR untuk belajar, mengabdi, dan menjadi penolong bagi sesama.

 

0 comments:

Posting Komentar