Berawal
dari Sebuah Permintaan, Berakhir Menjadi Pengabdian
Kisah Inspiratif
Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026
Grobogan – Tidak semua
perjalanan kepemimpinan dimulai dari sebuah impian besar. Ada kalanya, langkah
pertama justru berawal dari sebuah permintaan sederhana. Hal itulah yang
dialami Felisa Anistia Ahme, siswi SMA Negeri 1 Pulokulon, yang
kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan
Periode 2025–2026.
Lahir di Grobogan pada 3 Agustus
2008, Felisa mengaku awalnya sama sekali tidak mengenal keberadaan PMR Markas
Kabupaten Grobogan. Perjalanannya dimulai ketika Ketua PMR di sekolahnya
meminta dirinya menjadi salah satu perwakilan SMA Negeri 1 Pulokulon untuk
bergabung di PMR Markas.
"Awalnya saya bahkan tidak tahu
kalau ada PMR Markas. Saya hanya diminta menjadi perwakilan sekolah. Dari
situlah perjalanan saya dimulai hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PMR
Markas Kabupaten Grobogan," ungkap Felisa.
Sejak bergabung, Felisa merasakan bahwa
PMR bukan sekadar organisasi, tetapi menjadi tempat untuk belajar, berkembang,
dan mengabdi kepada sesama. Berbagai pengalaman berharga ia dapatkan, mulai
dari belajar kepemimpinan, membangun komunikasi, hingga bekerja sama dengan
anggota PMR dari puluhan sekolah di Kabupaten Grobogan.
Salah satu kegiatan yang paling membekas
di hatinya adalah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Menurutnya, kegiatan
tersebut menjadi wadah yang sangat efektif untuk membentuk karakter seorang
relawan muda.
"LDK mengajarkan kami tentang
kerja sama, melatih mental, meningkatkan fisik, sekaligus membangun rasa
tanggung jawab sebagai seorang anggota PMR," tuturnya.
Menjadi pemimpin tentu bukan tanpa
tantangan. Sebagai Ketua PMR Markas, Felisa harus mengoordinasikan anggota dari
berbagai sekolah yang memiliki karakter, latar belakang, dan kesibukan yang
berbeda-beda.
Salah satu tantangan terbesar yang ia
hadapi adalah ketika kegiatan membutuhkan kontribusi dana pribadi dari peserta.
Tidak semua anggota memiliki kondisi yang sama sehingga dibutuhkan komunikasi
yang baik dan rasa saling memahami.
"Kalau mengatur teman-teman
sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi setiap orang memiliki sifat yang
berbeda. Sebagai ketua saya harus bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan
mereka agar semua tetap bisa berjalan bersama," jelasnya.
Di balik kesibukannya sebagai pelajar
dan pengurus PMR Markas, Felisa juga memiliki keinginan besar untuk lebih
banyak membantu kegiatan kemanusiaan di PMI Kabupaten Grobogan. Namun, jarak
rumah menuju Markas PMI yang memerlukan waktu lebih dari 30 menit sering
menjadi kendala sehingga ia tidak selalu dapat hadir setiap saat ketika
dibutuhkan.
Meski demikian, semangatnya untuk terus
mengabdi tidak pernah surut. Baginya, menjadi bagian dari PMR adalah sebuah
kebanggaan yang memberikan banyak pengalaman hidup yang tidak bisa diperoleh di
tempat lain.
"Anak PMR itu keren karena bisa
membantu banyak orang. Pengalamannya juga luar biasa, apalagi kalau sudah
bergabung di PMR Markas Kabupaten Grobogan. Kita belajar menjadi relawan yang
peduli, bertanggung jawab, dan siap hadir untuk sesama," ujarnya.
Di akhir ceritanya, Felisa memberikan
pesan kepada seluruh anggota PMR, khususnya generasi muda yang baru bergabung.
"Jangan pernah patah semangat.
Teruslah aktif mengikuti kegiatan PMR karena di sinilah kita belajar menjadi
pribadi yang lebih baik sekaligus bisa bermanfaat bagi orang lain. PMR bukan
hanya organisasi, tetapi keluarga yang mengajarkan arti kemanusiaan. PMR di
hati."
Kisah Felisa menjadi bukti bahwa
kesempatan besar sering kali datang dari langkah kecil yang mungkin tidak
pernah kita rencanakan. Dengan semangat belajar, kemauan untuk melayani, dan
kepedulian terhadap sesama, seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Pulokulon mampu
tumbuh menjadi pemimpin muda yang menginspirasi. Semoga semangat pengabdian
yang ditunjukkan Felisa dapat menjadi motivasi bagi seluruh anggota Palang
Merah Remaja untuk terus berkarya, mengembangkan diri, dan menebarkan
nilai-nilai kemanusiaan di mana pun berada.







0 comments:
Posting Komentar