This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

iklan

iklan

Sabtu, 18 Juli 2026

Bangun Generasi Bebas Narkoba, PMI Grobogan Edukasi Siswa Baru SMKN 2 Purwodadi

 


PMI Kabupaten Grobogan Edukasi Bahaya NAPZA kepada Siswa Baru SMK Negeri 2 Purwodadi

Grobogan, 14 Juli 2026 – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan berpartisipasi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Negeri 2 Purwodadi dengan memberikan edukasi mengenai bahaya Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) kepada peserta didik baru. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan SMK Negeri 2 Purwodadi pada Selasa (14/7/2026) mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Informasi kegiatan mengacu pada surat permohonan narasumber dari pihak sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Ari Arwani, narasumber dari PMI Kabupaten Grobogan, menyampaikan pentingnya membangun kesadaran generasi muda terhadap bahaya penyalahgunaan NAPZA. Menurutnya, remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap pengaruh lingkungan sehingga perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba.

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis-jenis NAPZA, dampak penyalahgunaan terhadap kesehatan fisik dan mental, konsekuensi hukum, serta pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang positif. Selain itu, peserta juga diajak memahami bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba harus dimulai dari diri sendiri melalui pola hidup sehat, kedisiplinan, serta keberanian mengatakan tidak terhadap ajakan yang merugikan.

Ari Arwani juga mengajak para siswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dengan membangun budaya saling mengingatkan dan peduli terhadap teman sebaya.

"Masa depan kalian sangat berharga. Jangan biarkan narkoba merusak cita-cita dan impian. Jadilah generasi yang sehat, berprestasi, serta berani mengatakan tidak terhadap penyalahgunaan NAPZA," pesannya di hadapan peserta MPLS.

Selama kegiatan berlangsung, para siswa mengikuti materi dengan antusias. Sesi diskusi dan tanya jawab dimanfaatkan peserta untuk menggali informasi mengenai berbagai modus penyalahgunaan narkoba yang sering menyasar kalangan remaja serta langkah-langkah pencegahannya.


Melalui kegiatan ini, PMI Kabupaten Grobogan berharap para peserta didik baru memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya NAPZA sehingga mampu menjaga diri, membangun karakter positif, serta menjadi pelopor hidup sehat di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari komitmen PMI Kabupaten Grobogan dalam mendukung pembinaan generasi muda yang sehat, tangguh, dan berkarakter melalui program-program edukasi kesehatan dan kemanusiaan di satuan pendidikan.

PMI Kabupaten Grobogan Salurkan 10.000 Liter Air Bersih bagi Warga Terdampak Kekeringan

 


PMI Kabupaten Grobogan Salurkan 10.000 Liter Air Bersih bagi Warga Terdampak Kekeringan

Grobogan, 18 Juli 2026 – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kemanusiaan melalui distribusi bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Pada Sabtu (18/7/2026), PMI Kabupaten Grobogan menyalurkan 10.000 liter air bersih kepada warga di dua desa yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih.

Distribusi bantuan berlangsung mulai pukul 08.10 hingga 15.15 WIB dengan menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter. Bantuan disalurkan ke Dusun Tegal Warung RT 06 dan RT 07 RW 02, Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan, serta Dusun Kalak Kidul RT 03 RW 01, Desa Karanganyar, Kecamatan Karangrayung.

Sebanyak 60 Kepala Keluarga (KK) atau 277 jiwa menerima manfaat dari kegiatan tersebut. Rinciannya, 29 KK (136 jiwa) di Dusun Tegal Warung dan 31 KK (141 jiwa) di Dusun Kalak Kidul memperoleh bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.



Kegiatan distribusi dipimpin oleh Gesit Kristyawan selaku Staf PMI Kabupaten Grobogan bersama personel Korps Sukarela (KSR) PMI Kabupaten Grobogan, yaitu Yoga Farenza dan Hernanda Tutuh Wijarnako. Seluruh proses distribusi berlangsung dengan tertib, aman, dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Dalam pelaksanaannya, PMI Kabupaten Grobogan juga berkolaborasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) RAPI serta Pemerintah Desa Karanganyar guna memastikan bantuan dapat diterima masyarakat secara tepat sasaran.

Kepala Seksi Pelayanan PMI Kabupaten Grobogan, Gesit Kristyawan, mengatakan bahwa distribusi air bersih merupakan salah satu bentuk respons PMI terhadap dampak musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan.


"PMI akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat melalui pelayanan kemanusiaan, khususnya bagi warga yang terdampak kekeringan. Kami berharap bantuan air bersih ini dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus meringankan beban mereka selama musim kemarau," ujarnya.

PMI Kabupaten Grobogan berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di berbagai wilayah serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, relawan, dan berbagai mitra kemanusiaan agar pelayanan distribusi air bersih dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Melalui semangat "Menolong Sepenuh Hati", PMI Kabupaten Grobogan terus menghadirkan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana maupun krisis kemanusiaan.

PMI Kabupaten Grobogan Tanamkan Semangat Kemanusiaan kepada Siswa Baru MTs Yasuda Putatsari melalui Pelatihan Dasar PMR

 


PMI Kabupaten Grobogan Tanamkan Semangat Kemanusiaan kepada Siswa Baru MTs Yasuda Putatsari melalui Pelatihan Dasar PMR

Grobogan, 15 Juli 2026 – Dalam rangka mendukung pembentukan karakter peserta didik sejak awal masa pendidikan, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan memberikan materi Pelatihan Dasar Palang Merah Remaja (PMR) dan Sosialisasi Kepalangmerahan kepada siswa baru MTs Yasuda Putatsari, Kecamatan Toroh, pada Rabu (15/7/2026).


Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) ini berlangsung mulai pukul 10.30 WIB dan diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta didik baru. Melalui kegiatan tersebut, para siswa dibekali pemahaman mengenai nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, kesiapsiagaan bencana, serta keterampilan dasar pertolongan pertama.

Kepala MTs Yasuda Putatsari, Dr. Wahyuningsih, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada PMI Kabupaten Grobogan yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan pembinaan karakter bagi peserta didik baru.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu membentuk pribadi yang peduli, tanggap, dan memiliki jiwa kemanusiaan.


Materi disampaikan oleh Andika, narasumber dari PMI Kabupaten Grobogan, yang mengajak para siswa mengenal lebih dekat organisasi Palang Merah Remaja (PMR), sejarah kepalangmerahan, serta peran penting generasi muda dalam kegiatan kemanusiaan.

Dalam penyampaiannya, Andika menjelaskan bahwa PMR merupakan wadah pembinaan remaja untuk mengembangkan karakter, kepemimpinan, dan semangat kesukarelawanan.

"PMR bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi tempat belajar kepedulian, kedisiplinan, kerja sama, dan keberanian untuk menolong sesama. Semangat kemanusiaan harus mulai ditanamkan sejak usia sekolah," ungkapnya.

Selain pengenalan organisasi PMR, peserta juga memperoleh materi mengenai Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, pengenalan Tri Bakti PMR, serta pentingnya membangun budaya hidup sehat dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Agar materi lebih mudah dipahami, narasumber mengajak peserta mengikuti praktik dasar Pertolongan Pertama (PP). Siswa dikenalkan pada teknik penanganan luka ringan, pembalutan, pembidaian sederhana, penanganan mimisan, hingga tindakan awal ketika seseorang mengalami pingsan.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para siswa terlihat aktif bertanya, menjawab pertanyaan, serta mencoba langsung setiap teknik yang diperagakan. Pendekatan pembelajaran yang komunikatif membuat peserta lebih mudah memahami materi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dalam memberikan pertolongan pertama secara sederhana.

Selain keterampilan pertolongan pertama, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana. Melalui berbagai contoh situasi yang sering terjadi di lingkungan sekitar, siswa diajak memahami pentingnya tetap tenang, mampu melindungi diri, serta saling membantu ketika terjadi keadaan darurat.

Kepala MTs Yasuda Putatsari berharap kegiatan ini menjadi langkah awal terbentuknya Unit PMR di lingkungan madrasah sebagai wadah pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial bagi peserta didik.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan yel-yel penyemangat yang diikuti seluruh peserta. Melalui pelatihan ini, PMI Kabupaten Grobogan berharap nilai-nilai kemanusiaan dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda sehingga lahir kader-kader PMR yang memiliki karakter peduli, tangguh, disiplin, serta siap memberikan pertolongan kepada sesama.

Sebagai organisasi kemanusiaan, PMI Kabupaten Grobogan terus berkomitmen mendukung dunia pendidikan melalui pembinaan Palang Merah Remaja sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan berjiwa kemanusiaan.

Jumat, 17 Juli 2026

MI Grobogan Tanamkan Jiwa Kemanusiaan Sejak Dini Melalui Sosialisasi PMR Mula di SD Negeri 4 Nambuhan


PMI Grobogan Tanamkan Jiwa Kemanusiaan Sejak Dini Melalui Sosialisasi PMR Mula di SD Negeri 4 Nambuhan

Grobogan, 18 Juli 2026 – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan bekerja sama dengan SD Negeri 4 Nambuhan menggelar kegiatan Sosialisasi Palang Merah Remaja (PMR) Mula pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta keterampilan dasar pertolongan pertama sejak usia dini.

Kegiatan dibuka oleh Kepala SD Negeri 4 Nambuhan, Agung Budi Utomo, S.Pd.I., yang menyampaikan apresiasi kepada PMI Kabupaten Grobogan atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pembinaan karakter melalui pendidikan kepalangmerahan menjadi bekal penting bagi peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang peduli, disiplin, dan siap membantu sesama.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Hari Wibowo, Kepala Seksi (Kasi) SDM dan Relawan PMI Kabupaten Grobogan, yang mengajak para siswa mengenal lebih dekat Palang Merah Remaja (PMR) Mula sebagai wadah pembinaan karakter kemanusiaan di lingkungan sekolah.

Dalam penyampaiannya, Hari Wibowo menjelaskan bahwa PMR bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga sarana membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian, semangat kesukarelawanan, dan keterampilan hidup.

"Menjadi anggota PMR berarti belajar peduli kepada sesama. Kalian bisa memulai dari hal-hal sederhana, seperti membantu teman yang terluka, menjaga kebersihan lingkungan, hidup sehat, dan saling menghormati. Dari kebiasaan kecil inilah lahir jiwa kemanusiaan yang akan bermanfaat bagi banyak orang," ujar Hari Wibowo di hadapan para peserta.


Selain mengenalkan sejarah dan peran PMR, narasumber juga menyampaikan materi mengenai Tri Bakti PMR, pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pengenalan dasar Pertolongan Pertama (PP). Melalui metode pembelajaran yang interaktif, diselingi permainan edukatif dan tanya jawab, para siswa diajak memahami cara memberikan pertolongan sederhana kepada teman yang mengalami luka ringan, mimisan, pingsan, maupun tersedak.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 aktif mengikuti setiap sesi, mulai dari menjawab pertanyaan, berdiskusi, hingga mencoba praktik sederhana yang dipandu langsung oleh narasumber. Suasana belajar yang menyenangkan membuat materi mudah dipahami oleh anak-anak.

Kepala SD Negeri 4 Nambuhan berharap kegiatan ini menjadi langkah awal terbentuknya PMR Mula di sekolahnya. Dengan adanya PMR Mula, para siswa diharapkan dapat terus mengembangkan pengetahuan tentang kepalangmerahan, membangun karakter kepemimpinan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama sejak usia dini.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan yel-yel PMR yang diikuti seluruh peserta. Melalui sosialisasi ini, PMI Kabupaten Grobogan berharap semakin banyak sekolah yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada peserta didik sehingga lahir generasi yang peduli, tangguh, dan siap menjadi relawan kemanusiaan di masa depan.

Dengan semangat "Menolong Sepenuh Hati", PMI Kabupaten Grobogan terus berkomitmen mendampingi sekolah-sekolah dalam membentuk karakter generasi muda melalui pembinaan Palang Merah Remaja sebagai investasi kemanusiaan untuk masa depan.


351 Siswa MTs Al Hidayah Genggadai Ikuti Pelatihan PMR Bersama PMI Grobogan, Bekali Generasi Muda dengan Jiwa Kemanusiaan

 


351 Siswa MTs Al Hidayah Genggadai Ikuti Pelatihan PMR Bersama PMI Grobogan, Bekali Generasi Muda dengan Jiwa Kemanusiaan

Grobogan, 16 Juli 2026 – Sebanyak 351 siswa dan calon siswa MTs Al Hidayah Genggadai, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, mengikuti kegiatan Pembinaan dan Pelatihan Palang Merah Remaja (PMR) yang diselenggarakan dalam rangka Masa Ta'aruf Madrasah (MATAMUDA) Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MTs Al Hidayah Genggadai dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan sebagai upaya membentuk generasi muda yang peduli, tanggap, dan siap menjadi relawan kemanusiaan.

Kegiatan diawali dengan apel pagi dan pembukaan resmi, dilanjutkan dengan berbagai materi kepalangmerahan yang disampaikan oleh tim fasilitator PMI Kabupaten Grobogan, yaitu Hari Wibowo, Marten Krisando Legowo, dan Yuni Mustika. Ketiga pemateri membawakan materi secara interaktif sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan.

Pada sesi pertama, peserta dikenalkan dengan sejarah lahirnya Gerakan Palang Merah, prinsip-prinsip dasar kepalangmerahan, serta peran penting PMR dalam membangun karakter generasi muda yang memiliki kepedulian sosial. Materi tersebut menjadi fondasi bagi peserta untuk memahami bahwa PMR bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan wadah pembentukan karakter dan semangat kemanusiaan.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai kesiapsiagaan bencana yang disampaikan oleh Marten Krisando Legowo. Materi ini membahas berbagai potensi bencana yang sering terjadi di Kabupaten Grobogan, seperti banjir, angin puting beliung, dan kekeringan. Selain teori, peserta diajak mengikuti permainan edukatif dan simulasi kepemimpinan yang melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, serta tetap tenang saat menghadapi situasi darurat. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat mengikuti simulasi yang berlangsung secara interaktif.

Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik Pertolongan Pertama (P3K) yang dipandu oleh Yuni Mustika. Peserta mempraktikkan berbagai teknik dasar, mulai dari pembalutan luka, pembidaian, penanganan mimisan, pingsan, tersedak, hingga luka bakar ringan. Demi kenyamanan peserta, sesi praktik dipindahkan ke serambi masjid karena cuaca yang cukup terik. Meskipun ruang praktik terbatas, kegiatan tetap berjalan lancar dengan pendampingan dari fasilitator PMI dan kader PMR sekolah.


Selama pelaksanaan kegiatan, panitia dan tim pemateri juga melakukan berbagai penyesuaian untuk menjaga efektivitas pembelajaran, seperti mengatur ulang lokasi kegiatan ke area yang lebih teduh, menyediakan air minum bagi peserta, serta menyusun metode pembelajaran yang lebih dinamis agar seluruh siswa tetap aktif dan bersemangat mengikuti setiap sesi. Pendekatan tersebut berhasil meningkatkan partisipasi peserta, termasuk siswa senior yang awalnya terlihat kurang antusias.

Kepala MTs Al Hidayah Genggadai, Muhamad Zubaidi, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada PMI Kabupaten Grobogan atas dukungan dan materi yang diberikan kepada para siswa. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bekal penting bagi peserta didik untuk memiliki kepedulian sosial, keterampilan dasar pertolongan pertama, serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat. Ia juga berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam pembentukan Unit PMR di MTs Al Hidayah Genggadai.


Kegiatan ditutup dengan refleksi, yel-yel penyemangat, dan doa bersama. Melalui pelatihan ini, PMI Kabupaten Grobogan berharap nilai-nilai kemanusiaan dapat tertanam sejak dini sehingga para peserta mampu menjadi generasi yang peduli, tangguh, dan siap memberikan pertolongan kepada sesama ketika dibutuhkan.

Rabu, 15 Juli 2026

PMI Grobogan Gelar Pelatihan P3K di SMP Plus Mambaus Sholihin, 91 Siswa Baru Dibekali Keterampilan Penyelamatan

 

PMI Grobogan Gelar Pelatihan P3K di SMP Plus Mambaus Sholihin, 91 Siswa Baru Dibekali Keterampilan Penyelamatan

RadarGrobogan.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan kembali menunjukkan perannya sebagai garda terdepan dalam edukasi kebencanaan dan pertolongan pertama. Kali ini, tim medis dan relawan PMI Grobogan menyambangi SMP Plus Mambaus Sholihin, Kradenan, untuk memberikan pembekalan keterampilan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut diikuti oleh 91 peserta didik baru, dengan rincian 54 siswa laki-laki dan 37 siswa perempuan. Mereka adalah generasi muda yang digadang-gadang menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, resik, dan indah, sesuai dengan tema yang diusung panitia.

Materi dan Praktik: Dari Teori ke Aksi Nyata

Berbeda dengan sesi pelatihan pada umumnya, kegiatan kali ini mengusung metode learning by doing. Para siswa tidak hanya duduk manis mendengarkan paparan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan pertolongan pertama secara bergantian.

Ketua Tim Pemateri PMI Grobogan, Fitri Kurniawan, menjelaskan bahwa sesi dibagi menjadi dua bagian utama. Pada sesi pertama, peserta diberikan pemahaman mendasar mengenai konsep P3K, teknik membalut luka, cara menghentikan pendarahan, hingga prosedur penanganan korban pingsan. Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan dikemas secara interaktif agar mudah dicerna oleh siswa baru.

"Setelah teori dirasa cukup, kami langsung masuk ke sesi praktik. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk mencoba langsung teknik membalut dan menangani kasus-kasus darurat simulasi. Ini penting agar mereka tidak hanya tahu, tapi juga terampil," ujar Fitri Kurniawan di sela-sela kegiatan.

Sesi praktik berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para siswa terlihat serius bergantian menjadi "korban" dan "penolong". Tim PMI yang didampingi beberapa relawan turun langsung membimbing setiap kelompok, memastikan teknik yang digunakan tepat dan aman.

Harapan Sekolah: Siswa Tangguh dan Sigap

Kepala SMP Plus Mambaus Sholihin, Susi Puji Astutik, S.Pd, yang turut memantau jalannya pelatihan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PMI Grobogan. Menurutnya, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan siswa dan lingkungan sekolah.

"Kami sangat bersyukur PMI Grobogan hadir di tengah-tengah siswa kami. Mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman berharga yang mungkin suatu saat akan menyelamatkan nyawa. Ini adalah bekal yang tak ternilai bagi generasi penerus bangsa," ujar Susi dengan penuh haru.

Ia menambahkan, dengan adanya pelatihan ini, sekolah berharap muncul kader-kader P3K di kalangan siswa yang dapat menjadi andalan saat terjadi kegawatdaruratan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing.

Respons Positif dari Para Peserta

Salah satu peserta, Ahmad Fauzi (14), mengaku sangat senang dan terbantu dengan pelatihan kali ini. "Awalnya saya agak takut melihat perban dan alat-alat kesehatan. Tapi setelah dipandu oleh kakak-kakak PMI, ternyata menyenangkan. Saya jadi tahu cara membalut luka yang benar," katanya dengan wajah sumringah.

Senada dengan Fauzi, Siti Aisyah (13) mengungkapkan bahwa ia kini lebih percaya diri jika sewaktu-waktu harus menolong temannya yang cedera. "Ilmu ini sangat bermanfaat. Saya berharap ada pelatihan lanjutan agar kami lebih mahir lagi," pungkasnya.

Komitmen PMI: Edukasi Berkelanjutan

Menutup kegiatan, Fitri Kurniawan menegaskan bahwa PMI Grobogan memiliki komitmen kuat untuk terus mengedukasi masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan. Pelatihan seperti ini akan terus digalakkan sebagai bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana dan keterampilan kemanusiaan sejak dini.

"Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti sampai di sini. Kami akan terus memantau dan mendampingi sekolah-sekolah yang membutuhkan. Pelatihan lanjutan sangat kami rekomendasikan agar ilmu yang didapat tidak pudar dan terus terasah," pungkasnya.

Dengan suksesnya kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMP Plus Mambaus Sholihin tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki jiwa kemanusiaan dan keterampilan yang mumpuni dalam menghadapi situasi darurat.

Penulis: Tim RadarGrobogan.com
Editor: Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026

Hujan Darah di Grobogan! Antusiasme Warga Melejit, Target Donor Terlampaui di Hari Kemanusiaan Sedunia

 

HEADLINE: Hujan Darah di Grobogan! Antusiasme Warga Melejit, Target Donor Terlampaui di Hari Kemanusiaan Sedunia

Oleh: Jurnalis Investigasi Harian-Grobogan.com

GROBOGAN – Bukan hujan air yang turun di Halaman Markas PMI Kabupaten Grobogan, Selasa (14/7/2026), melainkan guyuran "hujan darah" kemanusiaan yang luar biasa. Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah Sedunia, ribuan titik kepedulian menyatu, membuktikan bahwa nyawa sesama adalah segalanya bagi warga Grobogan.

Pagi itu, area markas yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari petani, buruh, pelajar, hingga pegawai negeri, sama-sama mengantre dengan tekad: menyelamatkan nyawa. Hasilnya? Spektakuler! Target yang dicanangkan panitia pecah berkeping-keping.

Melampaui Ekspektasi: 367 Relawan dan 298 Kantong Darah Siap Pakai

Awalnya, PMI Kabupaten Grobogan yang dipimpin Ketua Moh. Sumarsono hanya memasang target realistis 300 pendonor. Namun, semangat gotong royong warga Grobogan tak terbendung. Hingga acara usai, tercatat 367 orang mendaftarkan diri. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan ketat, sebanyak 298 orang dinyatakan lolos dan berhasil menyumbangkan darahnya.

"Ini bukti nyata bahwa kepedulian masyarakat Grobogan terhadap sesama tidak perlu diragukan lagi. Kami bahkan kewalahan melayani antrean yang membludak. Target terlampaui, tapi yang lebih penting, nyawa-nyawa akan terselamatkan," ujar Moh. Sumarsono dengan suara bergetar haru.

Ratusan kantong darah ini langsung diklasifikasi untuk memenuhi kebutuhan darurat rumah sakit. Rinciannya: Golongan B paling banyak dengan 99 kantong, disusul O (111 kantong), A (56 kantong), dan AB (32 kantong).

Ribuan Harapan Tertahan: Kenapa 69 Orang Gagal Donor?

Di balik euforia keberhasilan, ada cerita pilu dari 69 peserta yang harus gigit jari. Mereka tak diperbolehkan mendonorkan darahnya karena alasan medis. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena tubuh mereka belum siap atau kondisi kesehatan sedang tidak memungkinkan.

Faktor utama gagal donor didominasi oleh 43 orang yang memilih mundur sebelum pemeriksaan karena berbagai alasan. Sementara itu, faktor medis seperti Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) menjadi penyebab terbesar kedua, yakni menimpa 12 orang. Ada pula yang gagal karena Hemoglobin (HB) rendah (9 orang), konsumsi obat (2 orang), dan HB terlalu tinggi (2 orang).

"Screening ketat ini kami lakukan demi keselamatan pendonor dan penerima. Darah yang aman adalah darah yang berkualitas. Kami tidak ingin mengambil risiko," tegas tim medis PMI di lokasi.

Sekda Grobogan: "Setetes Darah, Sejuta Nyawa!"

Kehadiran Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, di tengah kerumunan pendonor menjadi penyemangat tersendiri. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

"Donor darah bukan sekadar rutinitas. Ini adalah wujud cinta kasih yang tak ternilai. Setetes darah yang kalian sumbangkan hari ini, bisa menjadi nafas hidup bagi saudara kita yang sedang kritis di rumah sakit. Saya bangga menjadi bagian dari Grobogan yang penuh kepedulian," ujar Anang di hadapan para pendonor.

Bakso Gratis dan Evaluasi Nyaman: Sentuhan Manusiawi PMI

Di tengah keseriusan acara, panitia menyelipkan kejutan manis yang membuat para pendonor tersenyum. Usai menyumbangkan darah, mereka disuguhi sajian Bakso Hangat dan suvenir menarik. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pengalaman donor terasa lebih berkesan.

Salah satu pendonor, Sofyan, mengaku sangat puas. "Pelayanan PMI kali ini ramah dan profesional. Badan sehat, dapat bakso lagi, dapat suvenir lagi. Tapi saran saya, untuk acara berikutnya meja pendaftaran dan cek tensi darah perlu ditambah petugasnya. Antreannya agak panjang di jam sibuk," ujarnya dengan logat khas Grobogan.

Ajakan dari PMI: Jadikan Donor Darah Gaya Hidup!

Menutup kegiatan, Moh. Sumarsono kembali menegaskan bahwa donor darah jangan hanya dilakukan setahun sekali. Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat.

"Rutin donor darah setiap dua bulan sekali itu baik untuk kesehatan, membantu regenerasi sel darah, dan yang terpenting, menyelamatkan banyak nyawa. Ayo, kita budayakan donor darah di Grobogan!" pungkasnya disambut tepuk tangan meriah.

Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi ketersediaan stok darah di Kabupaten Grobogan, sekaligus bukti bahwa semangat kemanusiaan masih menyala terang di bumi Sedulur Sikep.

 

Gempuran Materi Siaga Bencana Warnai MPLS SMAN 1 Purwodadi, PMI Grobogan Sapa 390 Siswa Baru Oleh: Tim Liputan Khusus Harian Grobogan

 

HEADLINE: Gempuran Materi Siaga Bencana Warnai MPLS SMAN 1 Purwodadi, PMI Grobogan Sapa 390 Siswa Baru

Oleh: Tim Liputan Khusus Harian Grobogan

GROBOGAN, Harian-Grobogan.com – Suasana Gedung Serbaguna SMA Negeri 1 Purwodadi bergema tidak seperti biasanya di hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (14/7/2026). Jika biasanya diisi dengan yel-yel dan pengenalan kurikulum, pagi itu ruangan dipenuhi oleh antusiasme tinggi para siswa baru ketika Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan hadir sebagai narasumber spesial.

Dalam laporan kegiatan yang diterima redaksi, sebanyak 390 siswa baru yang terdiri dari 175 pelajar laki-laki dan 215 pelajar perempuan mendapat suntikan pengetahuan vital mengenai kebencanaan, khususnya siaga bencana banjir. Kepala Markas PMI Kabupaten Grobogan, Djasman, S. Pd., menurunkan langsung dua pemateri andalannya, Fitri Kurniawan dan Khoirul Roziqin, untuk membekali generasi muda dengan ilmu penyelamatan diri.


Kegiatan yang berlangsung selama lima hari (13-17 Juli 2026) ini menghadirkan sesi interaktif yang dirancang untuk menghindari kebosanan. Pemateri tidak hanya tampil dengan presentasi statis, tetapi juga memutar video visual yang menggambarkan skenario nyata bencana banjir di lingkungan Kabupaten Grobogan.

"Awalnya anak-anak agak kaget dengan tema ini, tapi kami mencoba mengemasnya dengan komunikatif. Kami ajak mereka membedakan mana tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat banjir terjadi. Tidak lupa, kami selipkan ice breaking bernyanyi dan tepuk tangan sesuai jargon MPLS SMAN 1 Purwodadi agar suasana tetap cair," ujar Fitri Kurniawan kepada wartawan seusai acara.

Meskipun berjalan sukses, tim PMI mengakui adanya sejumlah kendala klasik di lapangan. Jumlah peserta yang tergolong banyak (390 orang) menjadi tantangan tersendiri. "Pengetahuan dasar peserta tentang kebencanaan masih beragam, ada yang sudah paham dan ada yang masih nol. Selain itu, ruangan yang panas dan waktu yang terbatas membuat kami harus memutar otak," jelas Khoirul Roziqin.

Namun, solusi cepat pun diambil. Panitia MPLS dilibatkan aktif dalam pengawasan peserta agar materi tetap fokus. Pemateri mempersingkat sesi teori dan memperbanyak tayangan visual agar lebih menarik. "Kami juga memanfaatkan kipas dan ventilasi udara untuk mengatasi hawa panas ruangan," tambahnya.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terbentuknya kesadaran kolektif di lingkungan sekolah. Para siswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana, dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.

Sebagai tindak lanjut, PMI Grobogan dan pihak sekolah sepakat untuk terus memantau perkembangan serta mengevaluasi hasil kegiatan ini. "Kami menyarankan adanya pelatihan lanjutan yang lebih mendalam terkait siaga bencana lingkup sekolah. Ini penting agar ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di ruang serbaguna, tetapi menjadi budaya di SMA Negeri 1 Purwodadi," pungkas Djasman, S. Pd., saat dikonfirmasi.

Sementara itu, panitia MPLS SMAN 1 Purwodadi mengapresiasi langkah PMI yang sigap membekali siswa baru dengan keterampilan non-akademis yang krusial di tengah kondisi geografis Grobogan yang rawan banjir. Dengan adanya bekal ini, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

Sabtu, 11 Juli 2026

Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

 


Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

Grobogan – Tidak semua pemimpin lahir dengan keberanian. Ada yang memulai langkahnya dengan rasa takut, tangan yang gemetar, bahkan air mata. Namun, keberanian sejati bukanlah tidak pernah merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Itulah perjalanan yang dialami Firstaletisha Arrazzaq Aliswa, siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, yang kini dikenal sebagai sosok pemimpin muda di Palang Merah Remaja (PMR).

Perjalanan Firsta di PMR dimulai pada 24 Juli 2024, saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi. Keinginannya sederhana, yaitu mempelajari dasar-dasar pertolongan pertama agar mampu membantu orang lain ketika membutuhkan bantuan medis dasar.

Keputusan tersebut juga lahir dari inspirasi orang-orang terdekatnya. Kakak senior di PMR dan sang ibu menjadi sosok yang terus memberikan dorongan agar ia berani mencoba hal baru dan mengembangkan potensi dirinya.


Belajar dari Nol

Bagi Firsta, bergabung dengan PMR adalah pengalaman yang benar-benar baru. Semasa SMP, ia belum pernah mengikuti organisasi ataupun kegiatan ekstrakurikuler.

"Awalnya saya deg-degan sekali. Saya pikir PMR hanya menghafal materi sambil bersenang-senang. Ternyata saya belajar jauh lebih banyak, mulai dari pertolongan pertama, etika, cara berkomunikasi, hingga bagaimana menjadi anggota yang profesional," kenangnya.

Materi yang banyak dan latihan praktik yang terus dilakukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah ia memperoleh pelajaran yang paling membekas.

"Tanggap itu kebiasaan, bukan bakat. Kalau ingin sigap membantu orang lain, kita harus terus belajar dan berlatih sampai menjadi refleks," ujarnya.

Kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika dipercaya menjadi ketua kelompok dalam sebuah permainan saat kegiatan PMR. Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memimpin.

Ketika Air Mata Mengiringi Amanah

Menjadi Ketua PMR bukanlah cita-cita yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, saat namanya ditunjuk sebagai calon ketua, rasa takut langsung menguasai dirinya.

"Saya panik, gemetar, bahkan sempat mengalami panic attack. Saya sudah berniat mengundurkan diri karena merasa tidak mampu," tuturnya.

Namun, di saat itulah sang ayah memberikan nasihat yang mengubah cara pandangnya.

Beliau meyakinkan bahwa kepemimpinan adalah bekal penting untuk masa depan dan kesempatan seperti itu tidak datang kepada semua orang. Dukungan tersebut membuat Firsta mengurungkan niatnya untuk mundur dan memilih bertahan.

Setelah melalui beberapa kali proses seleksi bersama para pembina, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi.

Momen orasi di depan seluruh anggota PMR menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

"Saya benar-benar gemetar. Sampai meminta teman memegang tangan saya supaya tidak terlalu tremor saat berbicara di depan semua orang," kenangnya sambil tersenyum.

Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan cerita tentang seorang remaja yang pernah menangis karena merasa belum pantas menjadi pemimpin.

Membangun PMR yang Aktif dan Peduli

Sebagai Ketua PMR, Firsta memiliki visi menjadikan PMR sebagai wadah kreativitas dan pembelajaran di bidang kesehatan sekaligus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, teladan, dan solid.

Visi tersebut diwujudkan melalui beberapa misi utama, di antaranya memperkuat kerja sama berdasarkan Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Tri Bhakti PMR, meningkatkan keterampilan pertolongan pertama, dan membangun PMR yang sigap terhadap kondisi kesehatan warga sekolah.

Salah satu program yang paling ingin ia wujudkan adalah Latihan Gabungan (Latgab) bersama berbagai sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengalaman, bertukar ilmu, dan mempererat persaudaraan antaranggota PMR.

Agar anggota tetap bersemangat mengikuti kegiatan, ia memilih pendekatan yang menyenangkan.

"Setelah penyampaian materi, kami sering mengadakan permainan edukatif dan memberikan doorprize. Belajar akan terasa lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama," katanya.


Belajar Menjadi Pemimpin, Bukan Sekadar Mengatur

Menjadi pemimpin ternyata tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh anggota.

Ia juga pernah mengalami perbedaan pendapat dengan pengurus inti hingga sempat merasa ingin menyerah. Selain itu, mencari metode penyampaian materi yang tidak membosankan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, setiap konflik selalu diselesaikan melalui dialog.

"Saya memilih mengajak kedua belah pihak berbicara, mendengarkan semua pendapat, lalu mencari solusi yang paling adil."

Bagi Firsta, menjadi pemimpin berarti siap menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut belum tentu sepenuhnya menjadi kesalahannya. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih bertanggung jawab.


Ketika Ilmu PMR Menjadi Penolong

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat ia sedang bertugas mengatur jadwal piket anggota di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Tiba-tiba seorang siswa datang dalam kondisi terluka akibat kecelakaan.

Melihat korban menangis kesakitan, Firsta berusaha tetap tenang. Ia membersihkan luka, memberikan pertolongan pertama, kemudian membalut luka sambil terus menenangkan korban agar tidak panik.

"Di saat seperti itu saya sadar, ilmu yang saya pelajari di PMR benar-benar berguna. Kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa langsung membantu orang lain."

Momen lain yang membuatnya sangat terharu terjadi saat menjadi penanggung jawab kegiatan pengukuhan anggota baru.

Di balik rasa bingung, tekanan, dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, acara akhirnya berjalan lancar hingga selesai.

"Sore itu saya menangis karena lega. Rasanya semua perjuangan terbayar ketika melihat acara berjalan dengan baik."

Selain aktif di sekolah, Firsta juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh serta membantu kegiatan skrining kesehatan bersama PMI Kabupaten Grobogan.

PMR Mengubah Cara Pandang Hidup

Menurut Firsta, pengalaman menjadi Ketua PMR telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia belajar bahwa tidak ada pemimpin yang bisa bekerja sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja sama, komunikasi, dan kesabaran.

Bersama PMR SMK Negeri 1 Purwodadi, ia juga berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara I Lomba Pertolongan Pertama, Juara Harapan III Lomba Cerdas Cermat Kemanusiaan, serta Juara III Lomba Pentas Seni Edukasi Donor Darah.

Salah satu inovasi yang paling ia banggakan adalah program PMR Peduli Aceh, yaitu penggalangan dana kemanusiaan yang melibatkan PMR, MPK, OSIS, dan seluruh warga sekolah. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui PMI Kabupaten Grobogan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap korban bencana.

Program tersebut menjadi bukti bahwa PMR bukan hanya aktif di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.


Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Bergabung dengan PMR telah membawa perubahan besar dalam diri Firsta.

Ia yang dahulu kurang peduli terhadap kesehatan kini menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, tenang menghadapi situasi darurat, serta memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pertolongan pertama yang terus berkembang.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, para pembina, sahabat, dan teman-teman yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya.

Meski bercita-cita menjadi seorang dokter, Firsta yakin bahwa nilai-nilai yang ia pelajari di PMR akan menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Selamat menuntut ilmu. Jangan pernah takut belajar dan jangan malu bertanya ketika belum memahami sesuatu. Kemanusiaan adalah tentang memberikan pertolongan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Jadilah generasi yang peduli, karena kepedulian adalah kekuatan yang mampu mengubah masa depan."

Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa membuktikan bahwa pemimpin hebat tidak selalu lahir dari keberanian yang sempurna. Terkadang, mereka adalah orang-orang yang pernah takut, pernah menangis, namun memilih tetap melangkah. Dari keberanian itulah lahir semangat kemanusiaan yang akan terus menginspirasi generasi PMR untuk belajar, mengabdi, dan menjadi penolong bagi sesama.