This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

iklan

iklan

Selasa, 14 Juli 2026

Hujan Darah di Grobogan! Antusiasme Warga Melejit, Target Donor Terlampaui di Hari Kemanusiaan Sedunia

 

HEADLINE: Hujan Darah di Grobogan! Antusiasme Warga Melejit, Target Donor Terlampaui di Hari Kemanusiaan Sedunia

Oleh: Jurnalis Investigasi Harian-Grobogan.com

GROBOGAN – Bukan hujan air yang turun di Halaman Markas PMI Kabupaten Grobogan, Selasa (14/7/2026), melainkan guyuran "hujan darah" kemanusiaan yang luar biasa. Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah Sedunia, ribuan titik kepedulian menyatu, membuktikan bahwa nyawa sesama adalah segalanya bagi warga Grobogan.

Pagi itu, area markas yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari petani, buruh, pelajar, hingga pegawai negeri, sama-sama mengantre dengan tekad: menyelamatkan nyawa. Hasilnya? Spektakuler! Target yang dicanangkan panitia pecah berkeping-keping.

Melampaui Ekspektasi: 367 Relawan dan 298 Kantong Darah Siap Pakai

Awalnya, PMI Kabupaten Grobogan yang dipimpin Ketua Moh. Sumarsono hanya memasang target realistis 300 pendonor. Namun, semangat gotong royong warga Grobogan tak terbendung. Hingga acara usai, tercatat 367 orang mendaftarkan diri. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan ketat, sebanyak 298 orang dinyatakan lolos dan berhasil menyumbangkan darahnya.

"Ini bukti nyata bahwa kepedulian masyarakat Grobogan terhadap sesama tidak perlu diragukan lagi. Kami bahkan kewalahan melayani antrean yang membludak. Target terlampaui, tapi yang lebih penting, nyawa-nyawa akan terselamatkan," ujar Moh. Sumarsono dengan suara bergetar haru.

Ratusan kantong darah ini langsung diklasifikasi untuk memenuhi kebutuhan darurat rumah sakit. Rinciannya: Golongan B paling banyak dengan 99 kantong, disusul O (111 kantong), A (56 kantong), dan AB (32 kantong).

Ribuan Harapan Tertahan: Kenapa 69 Orang Gagal Donor?

Di balik euforia keberhasilan, ada cerita pilu dari 69 peserta yang harus gigit jari. Mereka tak diperbolehkan mendonorkan darahnya karena alasan medis. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena tubuh mereka belum siap atau kondisi kesehatan sedang tidak memungkinkan.

Faktor utama gagal donor didominasi oleh 43 orang yang memilih mundur sebelum pemeriksaan karena berbagai alasan. Sementara itu, faktor medis seperti Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) menjadi penyebab terbesar kedua, yakni menimpa 12 orang. Ada pula yang gagal karena Hemoglobin (HB) rendah (9 orang), konsumsi obat (2 orang), dan HB terlalu tinggi (2 orang).

"Screening ketat ini kami lakukan demi keselamatan pendonor dan penerima. Darah yang aman adalah darah yang berkualitas. Kami tidak ingin mengambil risiko," tegas tim medis PMI di lokasi.

Sekda Grobogan: "Setetes Darah, Sejuta Nyawa!"

Kehadiran Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, di tengah kerumunan pendonor menjadi penyemangat tersendiri. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

"Donor darah bukan sekadar rutinitas. Ini adalah wujud cinta kasih yang tak ternilai. Setetes darah yang kalian sumbangkan hari ini, bisa menjadi nafas hidup bagi saudara kita yang sedang kritis di rumah sakit. Saya bangga menjadi bagian dari Grobogan yang penuh kepedulian," ujar Anang di hadapan para pendonor.

Bakso Gratis dan Evaluasi Nyaman: Sentuhan Manusiawi PMI

Di tengah keseriusan acara, panitia menyelipkan kejutan manis yang membuat para pendonor tersenyum. Usai menyumbangkan darah, mereka disuguhi sajian Bakso Hangat dan suvenir menarik. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pengalaman donor terasa lebih berkesan.

Salah satu pendonor, Sofyan, mengaku sangat puas. "Pelayanan PMI kali ini ramah dan profesional. Badan sehat, dapat bakso lagi, dapat suvenir lagi. Tapi saran saya, untuk acara berikutnya meja pendaftaran dan cek tensi darah perlu ditambah petugasnya. Antreannya agak panjang di jam sibuk," ujarnya dengan logat khas Grobogan.

Ajakan dari PMI: Jadikan Donor Darah Gaya Hidup!

Menutup kegiatan, Moh. Sumarsono kembali menegaskan bahwa donor darah jangan hanya dilakukan setahun sekali. Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat.

"Rutin donor darah setiap dua bulan sekali itu baik untuk kesehatan, membantu regenerasi sel darah, dan yang terpenting, menyelamatkan banyak nyawa. Ayo, kita budayakan donor darah di Grobogan!" pungkasnya disambut tepuk tangan meriah.

Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi ketersediaan stok darah di Kabupaten Grobogan, sekaligus bukti bahwa semangat kemanusiaan masih menyala terang di bumi Sedulur Sikep.

 

Gempuran Materi Siaga Bencana Warnai MPLS SMAN 1 Purwodadi, PMI Grobogan Sapa 390 Siswa Baru Oleh: Tim Liputan Khusus Harian Grobogan

 

HEADLINE: Gempuran Materi Siaga Bencana Warnai MPLS SMAN 1 Purwodadi, PMI Grobogan Sapa 390 Siswa Baru

Oleh: Tim Liputan Khusus Harian Grobogan

GROBOGAN, Harian-Grobogan.com – Suasana Gedung Serbaguna SMA Negeri 1 Purwodadi bergema tidak seperti biasanya di hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (14/7/2026). Jika biasanya diisi dengan yel-yel dan pengenalan kurikulum, pagi itu ruangan dipenuhi oleh antusiasme tinggi para siswa baru ketika Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan hadir sebagai narasumber spesial.

Dalam laporan kegiatan yang diterima redaksi, sebanyak 390 siswa baru yang terdiri dari 175 pelajar laki-laki dan 215 pelajar perempuan mendapat suntikan pengetahuan vital mengenai kebencanaan, khususnya siaga bencana banjir. Kepala Markas PMI Kabupaten Grobogan, Djasman, S. Pd., menurunkan langsung dua pemateri andalannya, Fitri Kurniawan dan Khoirul Roziqin, untuk membekali generasi muda dengan ilmu penyelamatan diri.


Kegiatan yang berlangsung selama lima hari (13-17 Juli 2026) ini menghadirkan sesi interaktif yang dirancang untuk menghindari kebosanan. Pemateri tidak hanya tampil dengan presentasi statis, tetapi juga memutar video visual yang menggambarkan skenario nyata bencana banjir di lingkungan Kabupaten Grobogan.

"Awalnya anak-anak agak kaget dengan tema ini, tapi kami mencoba mengemasnya dengan komunikatif. Kami ajak mereka membedakan mana tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat banjir terjadi. Tidak lupa, kami selipkan ice breaking bernyanyi dan tepuk tangan sesuai jargon MPLS SMAN 1 Purwodadi agar suasana tetap cair," ujar Fitri Kurniawan kepada wartawan seusai acara.

Meskipun berjalan sukses, tim PMI mengakui adanya sejumlah kendala klasik di lapangan. Jumlah peserta yang tergolong banyak (390 orang) menjadi tantangan tersendiri. "Pengetahuan dasar peserta tentang kebencanaan masih beragam, ada yang sudah paham dan ada yang masih nol. Selain itu, ruangan yang panas dan waktu yang terbatas membuat kami harus memutar otak," jelas Khoirul Roziqin.

Namun, solusi cepat pun diambil. Panitia MPLS dilibatkan aktif dalam pengawasan peserta agar materi tetap fokus. Pemateri mempersingkat sesi teori dan memperbanyak tayangan visual agar lebih menarik. "Kami juga memanfaatkan kipas dan ventilasi udara untuk mengatasi hawa panas ruangan," tambahnya.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terbentuknya kesadaran kolektif di lingkungan sekolah. Para siswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana, dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.

Sebagai tindak lanjut, PMI Grobogan dan pihak sekolah sepakat untuk terus memantau perkembangan serta mengevaluasi hasil kegiatan ini. "Kami menyarankan adanya pelatihan lanjutan yang lebih mendalam terkait siaga bencana lingkup sekolah. Ini penting agar ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di ruang serbaguna, tetapi menjadi budaya di SMA Negeri 1 Purwodadi," pungkas Djasman, S. Pd., saat dikonfirmasi.

Sementara itu, panitia MPLS SMAN 1 Purwodadi mengapresiasi langkah PMI yang sigap membekali siswa baru dengan keterampilan non-akademis yang krusial di tengah kondisi geografis Grobogan yang rawan banjir. Dengan adanya bekal ini, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

Sabtu, 11 Juli 2026

Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

 


Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

Grobogan – Tidak semua pemimpin lahir dengan keberanian. Ada yang memulai langkahnya dengan rasa takut, tangan yang gemetar, bahkan air mata. Namun, keberanian sejati bukanlah tidak pernah merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Itulah perjalanan yang dialami Firstaletisha Arrazzaq Aliswa, siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, yang kini dikenal sebagai sosok pemimpin muda di Palang Merah Remaja (PMR).

Perjalanan Firsta di PMR dimulai pada 24 Juli 2024, saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi. Keinginannya sederhana, yaitu mempelajari dasar-dasar pertolongan pertama agar mampu membantu orang lain ketika membutuhkan bantuan medis dasar.

Keputusan tersebut juga lahir dari inspirasi orang-orang terdekatnya. Kakak senior di PMR dan sang ibu menjadi sosok yang terus memberikan dorongan agar ia berani mencoba hal baru dan mengembangkan potensi dirinya.


Belajar dari Nol

Bagi Firsta, bergabung dengan PMR adalah pengalaman yang benar-benar baru. Semasa SMP, ia belum pernah mengikuti organisasi ataupun kegiatan ekstrakurikuler.

"Awalnya saya deg-degan sekali. Saya pikir PMR hanya menghafal materi sambil bersenang-senang. Ternyata saya belajar jauh lebih banyak, mulai dari pertolongan pertama, etika, cara berkomunikasi, hingga bagaimana menjadi anggota yang profesional," kenangnya.

Materi yang banyak dan latihan praktik yang terus dilakukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah ia memperoleh pelajaran yang paling membekas.

"Tanggap itu kebiasaan, bukan bakat. Kalau ingin sigap membantu orang lain, kita harus terus belajar dan berlatih sampai menjadi refleks," ujarnya.

Kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika dipercaya menjadi ketua kelompok dalam sebuah permainan saat kegiatan PMR. Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memimpin.

Ketika Air Mata Mengiringi Amanah

Menjadi Ketua PMR bukanlah cita-cita yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, saat namanya ditunjuk sebagai calon ketua, rasa takut langsung menguasai dirinya.

"Saya panik, gemetar, bahkan sempat mengalami panic attack. Saya sudah berniat mengundurkan diri karena merasa tidak mampu," tuturnya.

Namun, di saat itulah sang ayah memberikan nasihat yang mengubah cara pandangnya.

Beliau meyakinkan bahwa kepemimpinan adalah bekal penting untuk masa depan dan kesempatan seperti itu tidak datang kepada semua orang. Dukungan tersebut membuat Firsta mengurungkan niatnya untuk mundur dan memilih bertahan.

Setelah melalui beberapa kali proses seleksi bersama para pembina, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi.

Momen orasi di depan seluruh anggota PMR menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

"Saya benar-benar gemetar. Sampai meminta teman memegang tangan saya supaya tidak terlalu tremor saat berbicara di depan semua orang," kenangnya sambil tersenyum.

Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan cerita tentang seorang remaja yang pernah menangis karena merasa belum pantas menjadi pemimpin.

Membangun PMR yang Aktif dan Peduli

Sebagai Ketua PMR, Firsta memiliki visi menjadikan PMR sebagai wadah kreativitas dan pembelajaran di bidang kesehatan sekaligus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, teladan, dan solid.

Visi tersebut diwujudkan melalui beberapa misi utama, di antaranya memperkuat kerja sama berdasarkan Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Tri Bhakti PMR, meningkatkan keterampilan pertolongan pertama, dan membangun PMR yang sigap terhadap kondisi kesehatan warga sekolah.

Salah satu program yang paling ingin ia wujudkan adalah Latihan Gabungan (Latgab) bersama berbagai sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengalaman, bertukar ilmu, dan mempererat persaudaraan antaranggota PMR.

Agar anggota tetap bersemangat mengikuti kegiatan, ia memilih pendekatan yang menyenangkan.

"Setelah penyampaian materi, kami sering mengadakan permainan edukatif dan memberikan doorprize. Belajar akan terasa lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama," katanya.


Belajar Menjadi Pemimpin, Bukan Sekadar Mengatur

Menjadi pemimpin ternyata tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh anggota.

Ia juga pernah mengalami perbedaan pendapat dengan pengurus inti hingga sempat merasa ingin menyerah. Selain itu, mencari metode penyampaian materi yang tidak membosankan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, setiap konflik selalu diselesaikan melalui dialog.

"Saya memilih mengajak kedua belah pihak berbicara, mendengarkan semua pendapat, lalu mencari solusi yang paling adil."

Bagi Firsta, menjadi pemimpin berarti siap menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut belum tentu sepenuhnya menjadi kesalahannya. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih bertanggung jawab.


Ketika Ilmu PMR Menjadi Penolong

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat ia sedang bertugas mengatur jadwal piket anggota di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Tiba-tiba seorang siswa datang dalam kondisi terluka akibat kecelakaan.

Melihat korban menangis kesakitan, Firsta berusaha tetap tenang. Ia membersihkan luka, memberikan pertolongan pertama, kemudian membalut luka sambil terus menenangkan korban agar tidak panik.

"Di saat seperti itu saya sadar, ilmu yang saya pelajari di PMR benar-benar berguna. Kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa langsung membantu orang lain."

Momen lain yang membuatnya sangat terharu terjadi saat menjadi penanggung jawab kegiatan pengukuhan anggota baru.

Di balik rasa bingung, tekanan, dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, acara akhirnya berjalan lancar hingga selesai.

"Sore itu saya menangis karena lega. Rasanya semua perjuangan terbayar ketika melihat acara berjalan dengan baik."

Selain aktif di sekolah, Firsta juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh serta membantu kegiatan skrining kesehatan bersama PMI Kabupaten Grobogan.

PMR Mengubah Cara Pandang Hidup

Menurut Firsta, pengalaman menjadi Ketua PMR telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia belajar bahwa tidak ada pemimpin yang bisa bekerja sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja sama, komunikasi, dan kesabaran.

Bersama PMR SMK Negeri 1 Purwodadi, ia juga berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara I Lomba Pertolongan Pertama, Juara Harapan III Lomba Cerdas Cermat Kemanusiaan, serta Juara III Lomba Pentas Seni Edukasi Donor Darah.

Salah satu inovasi yang paling ia banggakan adalah program PMR Peduli Aceh, yaitu penggalangan dana kemanusiaan yang melibatkan PMR, MPK, OSIS, dan seluruh warga sekolah. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui PMI Kabupaten Grobogan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap korban bencana.

Program tersebut menjadi bukti bahwa PMR bukan hanya aktif di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.


Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Bergabung dengan PMR telah membawa perubahan besar dalam diri Firsta.

Ia yang dahulu kurang peduli terhadap kesehatan kini menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, tenang menghadapi situasi darurat, serta memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pertolongan pertama yang terus berkembang.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, para pembina, sahabat, dan teman-teman yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya.

Meski bercita-cita menjadi seorang dokter, Firsta yakin bahwa nilai-nilai yang ia pelajari di PMR akan menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Selamat menuntut ilmu. Jangan pernah takut belajar dan jangan malu bertanya ketika belum memahami sesuatu. Kemanusiaan adalah tentang memberikan pertolongan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Jadilah generasi yang peduli, karena kepedulian adalah kekuatan yang mampu mengubah masa depan."

Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa membuktikan bahwa pemimpin hebat tidak selalu lahir dari keberanian yang sempurna. Terkadang, mereka adalah orang-orang yang pernah takut, pernah menangis, namun memilih tetap melangkah. Dari keberanian itulah lahir semangat kemanusiaan yang akan terus menginspirasi generasi PMR untuk belajar, mengabdi, dan menjadi penolong bagi sesama.

 

Minggu, 05 Juli 2026

PMI Grobogan Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk 23 KK di Dusun Tanjungan

 


PMI Kabupaten Grobogan Distribusikan 5.000 Liter Air Bersih untuk 23 KK di Dusun Tanjungan

Grobogan, 5 Juli 2026 – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan kembali melaksanakan aksi kemanusiaan melalui distribusi bantuan air bersih bagi warga Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, pada Minggu (5/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WIB ini merupakan bagian dari upaya PMI Kabupaten Grobogan dalam membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih, terutama pada musim kemarau.

Dalam kegiatan tersebut, PMI Kabupaten Grobogan menyalurkan 5.000 liter air bersih menggunakan satu unit truk tangki kepada 23 kepala keluarga (KK) di Dusun Tanjungan. Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga untuk keperluan sehari-hari.


Proses distribusi dilakukan oleh tim PMI Kabupaten Grobogan yang terdiri atas Ahmad Dulrokhim (Staf PMI Kabupaten Grobogan), Andi Sugroho (Korps Sukarela/KSR PMI Kabupaten Grobogan), dan Roikhatul Mubarokah (KSR PMI Kabupaten Grobogan). Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan mendapat sambutan baik dari masyarakat penerima manfaat.

Kepala Seksi Pelayanan PMI Kabupaten Grobogan, Gesit Kristyawan, A.Ma, mengatakan bahwa distribusi air bersih merupakan salah satu layanan kemanusiaan yang rutin dilakukan PMI sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

"PMI akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat melalui berbagai pelayanan kemanusiaan, termasuk penyediaan air bersih bagi wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat dan memenuhi kebutuhan dasar mereka," ujarnya.

PMI Kabupaten Grobogan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Melalui pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional, PMI berkomitmen untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.


Rabu, 01 Juli 2026

Percaya Diri Mengubah Segalanya: Perjalanan Givara Dewi Merlyana Menjadi Pemimpin PMR

 


Dari Gadis Pemalu Menjadi Pemimpin Muda: Kisah Givara Dewi Merlyana Menginspirasi Generasi PMR Grobogan

Grobogan – Setiap pemimpin memiliki cerita tentang bagaimana mereka memulai. Ada yang lahir dengan rasa percaya diri tinggi, namun ada pula yang tumbuh melalui proses panjang penuh tantangan. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Givara Dewi Merlyana, siswi SMA Negeri 1 Gabus, yang berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang menginspirasi.

Perjalanan Givara di Palang Merah Remaja (PMR) dimulai sejak duduk di bangku kelas VII di MTs Negeri 2 Grobogan. Ketertarikannya terhadap dunia medis menjadi alasan utama bergabung dengan PMR. Baginya, organisasi ini bukan hanya tempat belajar pertolongan pertama, tetapi juga ruang untuk menambah wawasan, membangun karakter, dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Di balik semangatnya, ada sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan tersebut, yaitu Bapak Zakaria, guru sekaligus pembina PMR di MTs Negeri 2 Grobogan. Melalui bimbingan dan motivasinya, Givara semakin yakin bahwa PMR adalah tempat terbaik untuk mengembangkan potensi dirinya.

"Beliau selalu memberikan semangat dan mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan medis, tetapi juga tentang kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab," ungkap Givara.


Belajar Mengalahkan Rasa Minder

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan PMR menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan. Suasana latihan yang penuh semangat, kebersamaan, dan praktik langsung membuatnya semakin mencintai organisasi ini.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Saat menjadi anggota baru, Givara harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia masih harus mengikuti kegiatan madrasah sehingga waktu istirahatnya sangat terbatas.

Meski demikian, ia tidak pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari situlah ia belajar pentingnya disiplin dan manajemen waktu.

Pelajaran paling berharga yang diperolehnya adalah arti kerja sama tim. Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dapat diraih sendirian. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, dan semangat untuk saling membantu.

Perubahan terbesar dalam dirinya terjadi ketika ia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu.

"Saya pernah menjadi anak yang minder. Tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Dari situ perlahan rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.


Memimpin dengan Semangat Kemanusiaan

Keaktifan mengikuti berbagai pelatihan, keberanian tampil, serta konsistensinya dalam kegiatan PMR mengantarkan Givara dipercaya memimpin organisasi.

Saat pertama kali mendapatkan amanah sebagai pemimpin, ia mengaku sempat merasa ragu. Namun, ia memilih untuk mengalahkan keraguan itu dengan terus belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sebagai pemimpin, Givara memiliki visi mewujudkan PMR yang aktif, disiplin, berkarakter, dan berjiwa kemanusiaan. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menitikberatkan pada peningkatan keterampilan anggota, kerja sama tim, pelatihan rutin, penguatan empati, hingga kolaborasi bersama PMI dan sekolah.

Salah satu program yang paling ia banggakan adalah PMR Goes to School, yaitu kegiatan edukasi kesehatan dan pertolongan pertama kepada siswa SD dan SMP. Melalui program ini, anggota PMR tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menjadi pendidik bagi generasi yang lebih muda.

Agar anggota tetap aktif, Givara memilih pendekatan yang menyenangkan.

"PMR harus menjadi tempat yang seru. Banyak praktik langsung, banyak belajar bersama, sehingga anggota merasa nyaman dan ingin terus berkembang," katanya.

Menempa Mental Lewat Berbagai Tantangan

Menjadi pemimpin organisasi lintas sekolah tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah masih rendahnya minat siswa laki-laki untuk bergabung dengan PMR.

Namun, tantangan tersebut tidak pernah membuatnya menyerah.

"Saya selalu berpegang pada prinsip pantang menyerah. Kalau kita yakin dan percaya diri, pasti akan ada jalan untuk berkembang," tuturnya.

Dalam menghadapi konflik antaranggota, Givara lebih memilih jalan musyawarah. Baginya, setiap masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan keputusan yang adil.

Kemampuan mengatur waktu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia selalu membuat jadwal kegiatan agar tidak berbenturan dengan aktivitas sekolah maupun organisasi.

Bahkan, di tengah kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada adik-adik PMR sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi yang telah membesarkan dirinya.

Momen yang Mengubah Hidup

Di antara banyak kegiatan yang pernah diikuti, Konferensi Koordinator Kabupaten (Korkab) menjadi pengalaman yang paling berkesan. Dalam kegiatan tersebut, Givara menghadapi tantangan public speaking menggunakan bahasa Inggris yang benar-benar menguji mental dan kepercayaan dirinya.

Namun, justru dari tantangan itulah lahir salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Ia terpilih sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) PMR Kabupaten Grobogan.

"Saat nama saya diumumkan menjadi Korkab, rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bersyukur. Itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan," kenangnya.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan seperti Jumbara, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), konferensi PMR, pelatihan pertolongan pertama, pelayanan kesehatan remaja, hingga berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya, Givara juga sering bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Ia bersama tim PMR beberapa kali membantu siswa yang mengalami pingsan, dehidrasi, nyeri haid, hingga gangguan lambung (GERD), serta menjadi bagian dari tim medis saat upacara dan berbagai kegiatan sekolah.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa seorang relawan harus mampu tetap tenang dalam situasi darurat sekaligus memberikan rasa aman bagi orang yang membutuhkan pertolongan.



PMR Membentuk Masa Depan

Selama aktif di PMR, Givara merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari sosok yang pemalu, kini ia menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berbicara di depan umum, menjadi master of ceremony (MC), memimpin organisasi, hingga memiliki kemampuan pertolongan pertama yang semakin baik.

Karakter disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama tim juga tumbuh seiring perjalanan yang dijalani.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Orang tua menjadi penyemangat utama yang selalu memberikan motivasi, sementara para pembina menjadi mentor yang membimbing setiap langkahnya. Teman-teman PMR juga menjadi keluarga kedua yang saling mendukung dalam setiap kegiatan.

Meski bercita-cita menjadi seorang pengacara, Givara meyakini bahwa pengalaman di PMR akan menjadi bekal penting untuk masa depannya. Kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi, dan rasa percaya diri merupakan modal berharga yang akan selalu ia bawa.

Di akhir perbincangan, Givara menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Jangan pernah takut mencoba hal baru. Teruslah belajar, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah meremehkan diri sendiri. Percaya pada kemampuan yang kita miliki, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain."

Perjalanan Givara Dewi Merlyana membuktikan bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan tempat lahirnya calon-calon pemimpin muda yang memiliki kepedulian, keberanian, dan semangat kemanusiaan. Dari seorang remaja yang dahulu merasa minder, kini ia berdiri sebagai sosok yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus melayani, belajar, dan bertumbuh.