This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

iklan

iklan

Rabu, 01 Juli 2026

Percaya Diri Mengubah Segalanya: Perjalanan Givara Dewi Merlyana Menjadi Pemimpin PMR

 


Dari Gadis Pemalu Menjadi Pemimpin Muda: Kisah Givara Dewi Merlyana Menginspirasi Generasi PMR Grobogan

Grobogan – Setiap pemimpin memiliki cerita tentang bagaimana mereka memulai. Ada yang lahir dengan rasa percaya diri tinggi, namun ada pula yang tumbuh melalui proses panjang penuh tantangan. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Givara Dewi Merlyana, siswi SMA Negeri 1 Gabus, yang berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang menginspirasi.

Perjalanan Givara di Palang Merah Remaja (PMR) dimulai sejak duduk di bangku kelas VII di MTs Negeri 2 Grobogan. Ketertarikannya terhadap dunia medis menjadi alasan utama bergabung dengan PMR. Baginya, organisasi ini bukan hanya tempat belajar pertolongan pertama, tetapi juga ruang untuk menambah wawasan, membangun karakter, dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Di balik semangatnya, ada sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan tersebut, yaitu Bapak Zakaria, guru sekaligus pembina PMR di MTs Negeri 2 Grobogan. Melalui bimbingan dan motivasinya, Givara semakin yakin bahwa PMR adalah tempat terbaik untuk mengembangkan potensi dirinya.

"Beliau selalu memberikan semangat dan mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan medis, tetapi juga tentang kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab," ungkap Givara.


Belajar Mengalahkan Rasa Minder

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan PMR menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan. Suasana latihan yang penuh semangat, kebersamaan, dan praktik langsung membuatnya semakin mencintai organisasi ini.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Saat menjadi anggota baru, Givara harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia masih harus mengikuti kegiatan madrasah sehingga waktu istirahatnya sangat terbatas.

Meski demikian, ia tidak pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari situlah ia belajar pentingnya disiplin dan manajemen waktu.

Pelajaran paling berharga yang diperolehnya adalah arti kerja sama tim. Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dapat diraih sendirian. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, dan semangat untuk saling membantu.

Perubahan terbesar dalam dirinya terjadi ketika ia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu.

"Saya pernah menjadi anak yang minder. Tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Dari situ perlahan rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.


Memimpin dengan Semangat Kemanusiaan

Keaktifan mengikuti berbagai pelatihan, keberanian tampil, serta konsistensinya dalam kegiatan PMR mengantarkan Givara dipercaya memimpin organisasi.

Saat pertama kali mendapatkan amanah sebagai pemimpin, ia mengaku sempat merasa ragu. Namun, ia memilih untuk mengalahkan keraguan itu dengan terus belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sebagai pemimpin, Givara memiliki visi mewujudkan PMR yang aktif, disiplin, berkarakter, dan berjiwa kemanusiaan. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menitikberatkan pada peningkatan keterampilan anggota, kerja sama tim, pelatihan rutin, penguatan empati, hingga kolaborasi bersama PMI dan sekolah.

Salah satu program yang paling ia banggakan adalah PMR Goes to School, yaitu kegiatan edukasi kesehatan dan pertolongan pertama kepada siswa SD dan SMP. Melalui program ini, anggota PMR tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menjadi pendidik bagi generasi yang lebih muda.

Agar anggota tetap aktif, Givara memilih pendekatan yang menyenangkan.

"PMR harus menjadi tempat yang seru. Banyak praktik langsung, banyak belajar bersama, sehingga anggota merasa nyaman dan ingin terus berkembang," katanya.

Menempa Mental Lewat Berbagai Tantangan

Menjadi pemimpin organisasi lintas sekolah tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah masih rendahnya minat siswa laki-laki untuk bergabung dengan PMR.

Namun, tantangan tersebut tidak pernah membuatnya menyerah.

"Saya selalu berpegang pada prinsip pantang menyerah. Kalau kita yakin dan percaya diri, pasti akan ada jalan untuk berkembang," tuturnya.

Dalam menghadapi konflik antaranggota, Givara lebih memilih jalan musyawarah. Baginya, setiap masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan keputusan yang adil.

Kemampuan mengatur waktu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia selalu membuat jadwal kegiatan agar tidak berbenturan dengan aktivitas sekolah maupun organisasi.

Bahkan, di tengah kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada adik-adik PMR sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi yang telah membesarkan dirinya.

Momen yang Mengubah Hidup

Di antara banyak kegiatan yang pernah diikuti, Konferensi Koordinator Kabupaten (Korkab) menjadi pengalaman yang paling berkesan. Dalam kegiatan tersebut, Givara menghadapi tantangan public speaking menggunakan bahasa Inggris yang benar-benar menguji mental dan kepercayaan dirinya.

Namun, justru dari tantangan itulah lahir salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Ia terpilih sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) PMR Kabupaten Grobogan.

"Saat nama saya diumumkan menjadi Korkab, rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bersyukur. Itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan," kenangnya.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan seperti Jumbara, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), konferensi PMR, pelatihan pertolongan pertama, pelayanan kesehatan remaja, hingga berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya, Givara juga sering bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Ia bersama tim PMR beberapa kali membantu siswa yang mengalami pingsan, dehidrasi, nyeri haid, hingga gangguan lambung (GERD), serta menjadi bagian dari tim medis saat upacara dan berbagai kegiatan sekolah.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa seorang relawan harus mampu tetap tenang dalam situasi darurat sekaligus memberikan rasa aman bagi orang yang membutuhkan pertolongan.



PMR Membentuk Masa Depan

Selama aktif di PMR, Givara merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari sosok yang pemalu, kini ia menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berbicara di depan umum, menjadi master of ceremony (MC), memimpin organisasi, hingga memiliki kemampuan pertolongan pertama yang semakin baik.

Karakter disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama tim juga tumbuh seiring perjalanan yang dijalani.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Orang tua menjadi penyemangat utama yang selalu memberikan motivasi, sementara para pembina menjadi mentor yang membimbing setiap langkahnya. Teman-teman PMR juga menjadi keluarga kedua yang saling mendukung dalam setiap kegiatan.

Meski bercita-cita menjadi seorang pengacara, Givara meyakini bahwa pengalaman di PMR akan menjadi bekal penting untuk masa depannya. Kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi, dan rasa percaya diri merupakan modal berharga yang akan selalu ia bawa.

Di akhir perbincangan, Givara menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Jangan pernah takut mencoba hal baru. Teruslah belajar, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah meremehkan diri sendiri. Percaya pada kemampuan yang kita miliki, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain."

Perjalanan Givara Dewi Merlyana membuktikan bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan tempat lahirnya calon-calon pemimpin muda yang memiliki kepedulian, keberanian, dan semangat kemanusiaan. Dari seorang remaja yang dahulu merasa minder, kini ia berdiri sebagai sosok yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus melayani, belajar, dan bertumbuh.

 

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

 


Berawal dari Sebuah Permintaan, Berakhir Menjadi Pengabdian

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

Grobogan – Tidak semua perjalanan kepemimpinan dimulai dari sebuah impian besar. Ada kalanya, langkah pertama justru berawal dari sebuah permintaan sederhana. Hal itulah yang dialami Felisa Anistia Ahme, siswi SMA Negeri 1 Pulokulon, yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026.

Lahir di Grobogan pada 3 Agustus 2008, Felisa mengaku awalnya sama sekali tidak mengenal keberadaan PMR Markas Kabupaten Grobogan. Perjalanannya dimulai ketika Ketua PMR di sekolahnya meminta dirinya menjadi salah satu perwakilan SMA Negeri 1 Pulokulon untuk bergabung di PMR Markas.

"Awalnya saya bahkan tidak tahu kalau ada PMR Markas. Saya hanya diminta menjadi perwakilan sekolah. Dari situlah perjalanan saya dimulai hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan," ungkap Felisa.

Sejak bergabung, Felisa merasakan bahwa PMR bukan sekadar organisasi, tetapi menjadi tempat untuk belajar, berkembang, dan mengabdi kepada sesama. Berbagai pengalaman berharga ia dapatkan, mulai dari belajar kepemimpinan, membangun komunikasi, hingga bekerja sama dengan anggota PMR dari puluhan sekolah di Kabupaten Grobogan.

Salah satu kegiatan yang paling membekas di hatinya adalah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah yang sangat efektif untuk membentuk karakter seorang relawan muda.

"LDK mengajarkan kami tentang kerja sama, melatih mental, meningkatkan fisik, sekaligus membangun rasa tanggung jawab sebagai seorang anggota PMR," tuturnya.

Menjadi pemimpin tentu bukan tanpa tantangan. Sebagai Ketua PMR Markas, Felisa harus mengoordinasikan anggota dari berbagai sekolah yang memiliki karakter, latar belakang, dan kesibukan yang berbeda-beda.

Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah ketika kegiatan membutuhkan kontribusi dana pribadi dari peserta. Tidak semua anggota memiliki kondisi yang sama sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik dan rasa saling memahami.

"Kalau mengatur teman-teman sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi setiap orang memiliki sifat yang berbeda. Sebagai ketua saya harus bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan mereka agar semua tetap bisa berjalan bersama," jelasnya.

Di balik kesibukannya sebagai pelajar dan pengurus PMR Markas, Felisa juga memiliki keinginan besar untuk lebih banyak membantu kegiatan kemanusiaan di PMI Kabupaten Grobogan. Namun, jarak rumah menuju Markas PMI yang memerlukan waktu lebih dari 30 menit sering menjadi kendala sehingga ia tidak selalu dapat hadir setiap saat ketika dibutuhkan.

Meski demikian, semangatnya untuk terus mengabdi tidak pernah surut. Baginya, menjadi bagian dari PMR adalah sebuah kebanggaan yang memberikan banyak pengalaman hidup yang tidak bisa diperoleh di tempat lain.

"Anak PMR itu keren karena bisa membantu banyak orang. Pengalamannya juga luar biasa, apalagi kalau sudah bergabung di PMR Markas Kabupaten Grobogan. Kita belajar menjadi relawan yang peduli, bertanggung jawab, dan siap hadir untuk sesama," ujarnya.

Di akhir ceritanya, Felisa memberikan pesan kepada seluruh anggota PMR, khususnya generasi muda yang baru bergabung.

"Jangan pernah patah semangat. Teruslah aktif mengikuti kegiatan PMR karena di sinilah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus bisa bermanfaat bagi orang lain. PMR bukan hanya organisasi, tetapi keluarga yang mengajarkan arti kemanusiaan. PMR di hati."

Kisah Felisa menjadi bukti bahwa kesempatan besar sering kali datang dari langkah kecil yang mungkin tidak pernah kita rencanakan. Dengan semangat belajar, kemauan untuk melayani, dan kepedulian terhadap sesama, seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Pulokulon mampu tumbuh menjadi pemimpin muda yang menginspirasi. Semoga semangat pengabdian yang ditunjukkan Felisa dapat menjadi motivasi bagi seluruh anggota Palang Merah Remaja untuk terus berkarya, mengembangkan diri, dan menebarkan nilai-nilai kemanusiaan di mana pun berada.

 

Sabtu, 27 Juni 2026

Bulan Dana PMI Grobogan 2026 Resmi Dimulai, Wujudkan Kepedulian Bersama untuk Aksi Kemanusiaan

 


Bulan Dana PMI Grobogan 2026 Resmi Dimulai, Wujudkan Kepedulian Bersama untuk Aksi Kemanusiaan

Grobogan, 26 Juni 2026 – Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama kembali digaungkan melalui pembukaan Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Grobogan ini menandai dimulainya gerakan penghimpunan dana kemanusiaan yang akan dilaksanakan selama beberapa bulan ke depan dengan target sebesar Rp1,58 miliar.

Peluncuran Bulan Dana PMI menjadi momentum penting untuk mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum agar berpartisipasi dalam mendukung berbagai program kemanusiaan yang dijalankan PMI.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, relawan, serta para mitra PMI hadir sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat gerakan kemanusiaan di Kabupaten Grobogan.


Dana yang berhasil dihimpun nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai layanan kemanusiaan PMI, antara lain pelayanan donor darah, bantuan bagi korban bencana, pelayanan ambulans, pembinaan relawan, pembinaan Palang Merah Remaja (PMR), pelayanan kesehatan masyarakat, serta berbagai kegiatan sosial lainnya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Ketua Panitia Bulan Dana PMI Kabupaten Grobogan Tahun 2026 menyampaikan bahwa keberhasilan Bulan Dana tidak hanya diukur dari besarnya dana yang terkumpul, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk terus berbagi dan peduli terhadap sesama.

"Setiap rupiah yang disumbangkan masyarakat merupakan investasi kemanusiaan. Dana tersebut akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan kemanusiaan yang cepat, tepat, dan tanpa membedakan latar belakang penerima manfaat."

Bulan Dana PMI merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi operasional pelayanan kemanusiaan PMI. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana menjadi komitmen utama sehingga setiap donasi dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

PMI Kabupaten Grobogan berharap seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi aktif menyukseskan Bulan Dana PMI Tahun 2026. Dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong, setiap kontribusi yang diberikan akan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

"Satu Donasi, Sejuta Harapan. Bersama PMI, Kita Hadir untuk Kemanusiaan."

Seminar dan Edukasi PMR Kabupaten Grobogan Bekali 135 Anggota PMR tentang Pencegahan Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual

 


135 Anggota PMR Ikuti Seminar Edukasi Pencegahan Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual di PMI Kabupaten Grobogan

Purwodadi, 27 Juni 2026 – Sebanyak 135 anggota Palang Merah Remaja (PMR) Madya dan PMR Wira dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan mengikuti kegiatan Seminar dan Edukasi PMR Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS) PMI Kabupaten Grobogan di Aula Markas PMI Kabupaten Grobogan, Sabtu (27/6).

Mengusung tema "Pendidikan Pencegahan Perkawinan Anak (Nikah Dini) dan Kekerasan Seksual pada Remaja", kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan serta kesadaran generasi muda mengenai pentingnya perlindungan diri, pencegahan perkawinan anak, dan upaya mencegah berbagai bentuk kekerasan seksual di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Markas PMI Kabupaten Grobogan, Bapak Djasman, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa anggota PMR tidak hanya dituntut memiliki keterampilan pertolongan pertama dan kepalangmerahan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang baik mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi remaja saat ini.

"PMR adalah pelopor perilaku hidup sehat dan agen perubahan di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini kami berharap para anggota PMR mampu menjadi contoh sekaligus menyebarkan edukasi kepada teman sebaya mengenai bahaya perkawinan anak dan kekerasan seksual," ujarnya.

Materi seminar disampaikan oleh Dr. Siti Mutmainah, S.Sos., S.H., M.H., yang membahas berbagai aspek hukum, sosial, dan dampak psikologis dari perkawinan anak serta kekerasan seksual terhadap remaja. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai perlindungan hukum bagi anak, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta langkah-langkah pencegahan dan penanganan apabila terjadi tindak kekerasan seksual. Materi juga mengulas bahwa praktik perkawinan anak merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak dan bertentangan dengan perlindungan hak anak berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Seminar berlangsung secara interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama pada sesi diskusi dan tanya jawab, di mana banyak peserta menyampaikan pertanyaan seputar pergaulan remaja, perlindungan hukum, serta upaya menjaga diri dari berbagai bentuk kekerasan.


Selain memperoleh materi edukatif, seluruh peserta juga mendapatkan E-Sertifikat resmi yang diterbitkan oleh PMI Kabupaten Grobogan, materi seminar, konsumsi, serta kesempatan memperluas jejaring antaranggota PMR dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan.

Ketua Panitia menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu membentuk karakter anggota PMR yang lebih peduli terhadap isu perlindungan anak dan remaja.

"Kami berharap seluruh peserta dapat menjadi pelopor dan pendidik sebaya di sekolah masing-masing. Ilmu yang diperoleh hari ini diharapkan tidak berhenti di ruang seminar, tetapi dapat disebarluaskan kepada teman-teman sehingga semakin banyak remaja yang memahami pentingnya menjaga diri, menghormati sesama, dan berani melaporkan apabila terjadi tindak kekerasan," ujarnya.


Melalui kegiatan ini, PMI Kabupaten Grobogan bersama FORPIS PMI Kabupaten Grobogan menegaskan komitmennya dalam membangun generasi muda yang sehat, berkarakter, dan peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja sekaligus mendukung terwujudnya generasi yang berkualitas, berprestasi, dan bebas dari perkawinan anak maupun kekerasan seksual.

Remaja Peduli, Remaja Terlindungi, Masa Depan Gemilang!


 

Selasa, 23 Juni 2026

Regenerasi Kemanusiaan: PMR Wira Markas PMI Grobogan Sukses Gelar Reorganisasi dan Cetak Pemimpin Baru Masa Depan

 


Regenerasi Kemanusiaan: PMR Wira Markas PMI Grobogan Sukses Gelar Reorganisasi dan Cetak Pemimpin Baru Masa Depan

GROBOGAN – Penumpukan semangat kemanusiaan dan estafet kepemimpinan relawan muda di Kabupaten Grobogan resmi bergulir. Pengurus Palang Merah Remaja (PMR) Wira Unit Markas PMI Kabupaten Grobogan sukses menyelenggarakan agenda krusial Reorganisasi Pengurus Periode 2026/2027 yang berlangsung selama dua hari penuh, yakni pada Sabtu hingga Minggu, 20–21 Juni 2026.

Mengusung tema besar “Mewujudkan Kepengurusan PMR yang Aktif, Berintegritas, Humanis, dan Berjiwa Kepemimpinan dalam Semangat Kemanusiaan,” kegiatan ini menjadi momentum penting penanaman nilai tanggung jawab, loyalitas, dan proses kaderisasi bagi anggota PMR.

Sinergi Dua Lokasi dan Kolaborasi Lintas Generasi

Reorganisasi kali ini mengombinasikan dua atmosfer lokasi yang strategis, yaitu Markas PMI Kabupaten Grobogan untuk pendalaman materi forum dan pemungutan suara, serta Lapangan Belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagai ruang terbuka hijau untuk kegiatan lapangan.

Sebanyak 37 peserta terlibat aktif dalam agenda ini, yang memadukan kolaborasi apik lintas generasi: 4 orang panitia dari kelas XII, 13 orang panitia dari kelas XI, serta 20 orang anggota baru PMR Wira yang berasal dari berbagai SMA/SMK/MA negeri maupun swasta se-Kabupaten Grobogan yang bernaung di bawah Unit Markas PMI.

Hari Pertama: Adu Gagasan, Voting Pengurus, hingga Tantangan Jelajah Malam

Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan registrasi dan pembukaan formal di Markas PMI Grobogan. Sejak siang, para peserta digembleng dengan materi padat seputar Keorganisasian, Kepemimpinan, hingga teknik penyusunan Program Kerja.

Atmosfer ketegangan positif mulai memuncak pada malam hari setelah jeda Ishoma. Memasuki agenda inti, para kandidat ketua terlebih dahulu memaparkan visi-misi mereka dalam sesi debat yang interaktif. Tak butuh waktu lama, forum langsung bergerak menuju bilik suara untuk melakukan proses voting (pemungutan suara) malam itu juga guna menentukan nakhoda baru PMR Markas.

Namun, malam tidak berhenti di situ. Setelah hak suara tersalurkan, adrenalin para peserta kembali dipacu lewat agenda Jelajah Malam. Melalui rute yang telah disiapkan, fisik, mental, dan wawasan para calon pengurus diuji melalui beberapa pos penting, mulai dari pendalaman materi Kepemimpinan, pemahaman Gerakan Palang Merah, hingga ketangkasan dalam Pertolongan Pertama (PP).

Hari Kedua: Fajar Demokrasi dan Outbound Kepemimpinan

Memasuki hari kedua, kegiatan berpindah ke Lapangan Belakang RSUD. Setelah melewati evaluasi malam sebelumnya, agenda pagi diawali dengan pengumuman dan penetapan ketua terpilih berdasarkan hasil voting semalam, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan sisa struktur kepengurusan baru.

Sebagai penutup yang membakar semangat, seluruh peserta langsung diterjunkan dalam Outbound Kepemimpinan dan dinamika kelompok di area lapangan terbuka. Menggunakan media sederhana seperti bambu dan atribut kepalangmerahan, kekompakan, komunikasi, serta jiwa korsa relawan muda ini benar-benar diuji melalui simulasi-simulasi kerja sama tim.

Langkah Baru Menuju PMR yang Progresif

Kegiatan reorganisasi ini akhirnya resmi ditutup dengan evaluasi menyeluruh dan aksi bersih-bersih lingkungan pada Minggu sore. Melalui rilis resminya, panitia berharap agar pengurus yang baru terbentuk dapat menjadi motor penggerak yang membawa PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan semakin solid, disiplin, progresif, dan terus berdampak nyata dalam semangat kemanusiaan.

Selamat bertugas untuk Pengurus PMR Wira Markas PMI Kabupaten Grobogan Periode 2026/2027! Siamo Tutti Fratelli!

Aliffya Ayunugraheningtias Terpilih sebagai Ketua PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan Periode 2026/2027

 


Aliffya Ayunugraheningtias Terpilih sebagai Ketua PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan Periode 2026/2027

Purwodadi, 20 Juni 2026 — Palang Merah Remaja (PMR) Markas PMI Kabupaten Grobogan telah melaksanakan kegiatan Pemilihan Ketua PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan Periode 2026/2027 pada Sabtu, 20 Juni 2026 di Markas PMI Kabupaten Grobogan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi sekaligus sebagai sarana pembelajaran demokrasi bagi anggota PMR.

Pemilihan ketua PMR berlangsung dengan tertib, demokratis, dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari penyampaian visi dan misi calon ketua, penyampaian gagasan program kerja, hingga proses pemungutan suara.

Berdasarkan hasil pemungutan suara, Aliffya Ayunugraheningtias dari SMA Negeri 1 Wirosari berhasil meraih 18 suara dan ditetapkan sebagai Ketua PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan Periode 2026/2027. Sementara itu, Annisa Sugi Rahmawati dari SMK Negeri 1 Purwodadi memperoleh 10 suara dan menempati posisi kedua.


Terpilihnya Aliffya Ayunugraheningtias menjadi harapan baru bagi keberlanjutan organisasi PMR Markas PMI Kabupaten Grobogan. Dengan semangat muda, jiwa kepemimpinan, dan komitmen kemanusiaan, kepengurusan baru diharapkan mampu membawa PMR semakin aktif, inovatif, serta berkontribusi nyata dalam berbagai kegiatan sosial dan kepalangmerahan.

Kegiatan pemilihan ini tidak hanya menjadi momentum pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, dan sportivitas anggota PMR. Seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan sikap saling mendukung demi terwujudnya regenerasi organisasi yang sehat dan berkualitas.

Melalui kegiatan ini, PMI Kabupaten Grobogan kembali menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda melalui PMR sebagai wadah pembentukan relawan muda yang peduli, tangguh, dan siap beraksi untuk kemanusiaan.



Latihan Gabungan PMR, Tiga Sekolah Tingkatkan Keterampilan Perawatan Keluarga

 


Latihan Gabungan PMR Tiga Sekolah Tingkatkan Keterampilan Perawatan Keluarga

47 Anggota PMR dari SMA N 1 Gubug, MAN 2 Grobogan, dan SMK Yasiha Gubug Ikuti Pelatihan Praktik Penggantian Sprei Pasien Bersama PMI Kabupaten Grobogan

GUBUG — Semangat belajar dan jiwa kemanusiaan tampak menyala dalam kegiatan latihan gabungan Palang Merah Remaja (PMR) yang mempertemukan anggota PMR dari SMA Negeri 1 Gubug, MAN 2 Grobogan, dan SMK Yasiha Gubug. Kegiatan yang digelar di SMA Negeri 1 Gubug pada Minggu, 21 Juni 2026 ini diikuti oleh 47 peserta dan difokuskan pada peningkatan keterampilan Perawatan Keluarga, khususnya praktik mengganti sprei tanpa pasien dan mengganti sprei dengan pasien di tempat tidur.

Latihan gabungan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota PMR lintas sekolah untuk memperkuat pemahaman, keterampilan, dan kesiapsiagaan dalam pelayanan kemanusiaan. Selain sebagai sarana pengembangan kapasitas anggota PMR, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat kolaborasi, serta membangun solidaritas antarremaja relawan di wilayah Kecamatan Gubug dan sekitarnya.

Materi pelatihan disampaikan langsung oleh pemateri dari PMI Kabupaten Grobogan, yakni Ari Arwani dan Ahmad Kasan Manuri. Dalam sesi materi, keduanya menjelaskan pentingnya keterampilan perawatan keluarga sebagai bagian dari pendidikan dasar kepalangmerahan yang harus dimiliki anggota PMR. Peserta dibekali pemahaman bahwa menjaga kebersihan tempat tidur pasien bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, mencegah infeksi, dan memberikan pelayanan yang manusiawi kepada orang yang sedang sakit.


Para pemateri memaparkan prosedur penggantian sprei secara runtut dan sesuai standar kesehatan, mulai dari persiapan alat dan bahan, kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga teknik penggantian sprei yang aman dan nyaman bagi pasien. Materi tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi juga diperkuat dengan demonstrasi langsung agar peserta dapat memahami setiap langkah secara lebih jelas dan aplikatif.

Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah membedakan teknik mengganti sprei tanpa pasien dan mengganti sprei dengan pasien di tempat tidur. Pada praktik penggantian sprei dengan pasien, peserta diajarkan bagaimana menjaga kenyamanan pasien, memperhatikan posisi tubuh pasien, menjaga privasi, serta tetap menerapkan prinsip keselamatan dan kebersihan selama proses berlangsung. Materi ini menjadi pengalaman penting bagi anggota PMR karena mendekatkan mereka pada situasi pelayanan yang nyata di lapangan.

Setelah sesi demonstrasi, seluruh peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung keterampilan yang telah dipelajari. Praktik dilakukan secara bergantian dengan pendampingan pemateri, dimulai dari menyiapkan alat, melakukan prosedur cuci tangan, menggunakan APD, hingga melaksanakan penggantian sprei sesuai urutan yang benar. Selama sesi praktik berlangsung, suasana pelatihan tampak aktif, interaktif, dan penuh semangat. Peserta tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan saling membantu dalam memahami teknik yang diajarkan.

Antusiasme peserta terlihat dari kesungguhan mereka saat mencoba setiap tahapan praktik. Beberapa peserta mengaku baru pertama kali mempelajari teknik penggantian sprei pasien secara langsung, sehingga kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Selain menambah wawasan, latihan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, empati, dan kerja sama—nilai-nilai yang sangat penting dalam gerakan kepalangmerahan.

Melalui kegiatan latihan gabungan ini, diharapkan anggota PMR dari ketiga sekolah tidak hanya memahami teori pertolongan pertama dan perawatan keluarga, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, maupun saat memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan wadah pembinaan generasi muda yang peduli, terampil, tangguh, dan siap hadir membantu sesama.

Dengan terlaksananya latihan gabungan ini, PMI Kabupaten Grobogan bersama pembina PMR dari masing-masing sekolah berharap sinergi pembinaan PMR di wilayah Grobogan dapat terus diperkuat melalui kegiatan-kegiatan bersama yang edukatif, aplikatif, dan berkelanjutan. Semangat kebersamaan yang terbangun dalam latihan ini diharapkan menjadi modal penting dalam mencetak relawan muda yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga sigap dalam tindakan kemanusiaan.

PMI Grobogan Serahkan Santunan Kematian untuk Keluarga PMI di Hong Kong

 

PMI Kabupaten Grobogan Salurkan Santunan Kematian untuk Keluarga Almarhumah Yasmiati, Wujud Kepedulian bagi Pekerja Migran dan Keluarga

GROBOGAN — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat. Pada Sabtu, 20 Juni 2026, PMI Kabupaten Grobogan menyalurkan santunan kematian kepada keluarga almarhumah Yasmiati, seorang pekerja migran asal Kabupaten Grobogan yang meninggal dunia akibat insiden kebakaran apartemen di Hong Kong pada November 2025.

Penyerahan santunan dilaksanakan di kediaman keluarga almarhumah di Desa Guyangan, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Bantuan diterima langsung oleh suami almarhumah, Karnoto, sebagai bentuk dukungan kemanusiaan bagi keluarga yang sedang berduka.

Santunan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PMI Kabupaten Grobogan, PMI Pusat, dan Hong Kong Red Cross (HRC). Bantuan yang disalurkan meliputi biaya pemakaman sebesar Rp21.460.000 serta bantuan dana bulan Juni sebesar Rp10.730.000. Selain bantuan finansial, keluarga almarhumah juga akan mendapatkan dukungan psikososial selama satu tahun, terhitung mulai Juni 2026 hingga Juni 2027.


Ketua PMI Kabupaten Grobogan, Dr. Ir. Moh. Sumarsono, M.Si., menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian gerakan kemanusiaan kepada keluarga pekerja migran yang mengalami musibah di luar negeri. Menurutnya, kehadiran PMI bukan hanya sebatas pada saat terjadi bencana atau keadaan darurat, tetapi juga dalam mendampingi keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.

“Bantuan ini bukan sekadar santunan secara materi, tetapi juga bentuk empati dan kepedulian kemanusiaan kepada keluarga almarhumah. PMI Kabupaten Grobogan menyampaikan terima kasih kepada PMI Pusat dan Hong Kong Red Cross atas dukungan yang diberikan kepada keluarga almarhumah Yasmiati,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia dan keluarga mereka menjadi perhatian penting, terutama ketika mereka menghadapi musibah di negara penempatan. Menurutnya, sinergi lintas lembaga sangat dibutuhkan agar keluarga pekerja migran tetap mendapatkan pendampingan, baik dalam proses pemulangan, bantuan kemanusiaan, maupun pemulihan psikologis pascakejadian.

Bagi keluarga almarhumah, bantuan ini menjadi penguat di tengah duka yang masih dirasakan. Suami almarhumah, Karnoto, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan PMI dan Hong Kong Red Cross kepada keluarganya. Bantuan tersebut dinilai sangat berarti, tidak hanya untuk membantu kebutuhan keluarga, tetapi juga sebagai bukti bahwa almarhumah dan keluarganya tidak sendiri menghadapi musibah ini.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pekerja migran Indonesia adalah bagian penting dari masyarakat yang juga membutuhkan perlindungan dan perhatian, terutama saat menghadapi risiko di luar negeri. PMI Kabupaten Grobogan memandang bahwa pelayanan kemanusiaan harus menjangkau siapa pun yang membutuhkan, tanpa memandang jarak maupun latar belakang, termasuk keluarga pekerja migran yang tengah mengalami masa sulit.

Melalui penyaluran santunan ini, PMI Kabupaten Grobogan menegaskan perannya sebagai organisasi kemanusiaan yang hadir tidak hanya dalam penanganan bencana dan pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam memberikan dukungan sosial, empati, dan penguatan kepada masyarakat yang terdampak musibah. Semangat kemanusiaan inilah yang terus menjadi landasan PMI dalam melayani masyarakat, sejalan dengan prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Untuk informasi lebih lanjut tentang layanan dan kegiatan PMI Grobogan, masyarakat dapat mengunjungi PMI Grobogan.