This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

iklan

iklan

Sabtu, 11 Juli 2026

Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

 


Dari Rasa Takut Menjadi Pemimpin: Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa Menginspirasi Generasi PMR

Grobogan – Tidak semua pemimpin lahir dengan keberanian. Ada yang memulai langkahnya dengan rasa takut, tangan yang gemetar, bahkan air mata. Namun, keberanian sejati bukanlah tidak pernah merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Itulah perjalanan yang dialami Firstaletisha Arrazzaq Aliswa, siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, yang kini dikenal sebagai sosok pemimpin muda di Palang Merah Remaja (PMR).

Perjalanan Firsta di PMR dimulai pada 24 Juli 2024, saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi. Keinginannya sederhana, yaitu mempelajari dasar-dasar pertolongan pertama agar mampu membantu orang lain ketika membutuhkan bantuan medis dasar.

Keputusan tersebut juga lahir dari inspirasi orang-orang terdekatnya. Kakak senior di PMR dan sang ibu menjadi sosok yang terus memberikan dorongan agar ia berani mencoba hal baru dan mengembangkan potensi dirinya.


Belajar dari Nol

Bagi Firsta, bergabung dengan PMR adalah pengalaman yang benar-benar baru. Semasa SMP, ia belum pernah mengikuti organisasi ataupun kegiatan ekstrakurikuler.

"Awalnya saya deg-degan sekali. Saya pikir PMR hanya menghafal materi sambil bersenang-senang. Ternyata saya belajar jauh lebih banyak, mulai dari pertolongan pertama, etika, cara berkomunikasi, hingga bagaimana menjadi anggota yang profesional," kenangnya.

Materi yang banyak dan latihan praktik yang terus dilakukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah ia memperoleh pelajaran yang paling membekas.

"Tanggap itu kebiasaan, bukan bakat. Kalau ingin sigap membantu orang lain, kita harus terus belajar dan berlatih sampai menjadi refleks," ujarnya.

Kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika dipercaya menjadi ketua kelompok dalam sebuah permainan saat kegiatan PMR. Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memimpin.

Ketika Air Mata Mengiringi Amanah

Menjadi Ketua PMR bukanlah cita-cita yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, saat namanya ditunjuk sebagai calon ketua, rasa takut langsung menguasai dirinya.

"Saya panik, gemetar, bahkan sempat mengalami panic attack. Saya sudah berniat mengundurkan diri karena merasa tidak mampu," tuturnya.

Namun, di saat itulah sang ayah memberikan nasihat yang mengubah cara pandangnya.

Beliau meyakinkan bahwa kepemimpinan adalah bekal penting untuk masa depan dan kesempatan seperti itu tidak datang kepada semua orang. Dukungan tersebut membuat Firsta mengurungkan niatnya untuk mundur dan memilih bertahan.

Setelah melalui beberapa kali proses seleksi bersama para pembina, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua PMR Wira SMK Negeri 1 Purwodadi.

Momen orasi di depan seluruh anggota PMR menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

"Saya benar-benar gemetar. Sampai meminta teman memegang tangan saya supaya tidak terlalu tremor saat berbicara di depan semua orang," kenangnya sambil tersenyum.

Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan cerita tentang seorang remaja yang pernah menangis karena merasa belum pantas menjadi pemimpin.

Membangun PMR yang Aktif dan Peduli

Sebagai Ketua PMR, Firsta memiliki visi menjadikan PMR sebagai wadah kreativitas dan pembelajaran di bidang kesehatan sekaligus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah yang sehat, teladan, dan solid.

Visi tersebut diwujudkan melalui beberapa misi utama, di antaranya memperkuat kerja sama berdasarkan Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Tri Bhakti PMR, meningkatkan keterampilan pertolongan pertama, dan membangun PMR yang sigap terhadap kondisi kesehatan warga sekolah.

Salah satu program yang paling ingin ia wujudkan adalah Latihan Gabungan (Latgab) bersama berbagai sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperluas pengalaman, bertukar ilmu, dan mempererat persaudaraan antaranggota PMR.

Agar anggota tetap bersemangat mengikuti kegiatan, ia memilih pendekatan yang menyenangkan.

"Setelah penyampaian materi, kami sering mengadakan permainan edukatif dan memberikan doorprize. Belajar akan terasa lebih menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama," katanya.


Belajar Menjadi Pemimpin, Bukan Sekadar Mengatur

Menjadi pemimpin ternyata tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh anggota.

Ia juga pernah mengalami perbedaan pendapat dengan pengurus inti hingga sempat merasa ingin menyerah. Selain itu, mencari metode penyampaian materi yang tidak membosankan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, setiap konflik selalu diselesaikan melalui dialog.

"Saya memilih mengajak kedua belah pihak berbicara, mendengarkan semua pendapat, lalu mencari solusi yang paling adil."

Bagi Firsta, menjadi pemimpin berarti siap menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut belum tentu sepenuhnya menjadi kesalahannya. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih bertanggung jawab.


Ketika Ilmu PMR Menjadi Penolong

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat ia sedang bertugas mengatur jadwal piket anggota di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Tiba-tiba seorang siswa datang dalam kondisi terluka akibat kecelakaan.

Melihat korban menangis kesakitan, Firsta berusaha tetap tenang. Ia membersihkan luka, memberikan pertolongan pertama, kemudian membalut luka sambil terus menenangkan korban agar tidak panik.

"Di saat seperti itu saya sadar, ilmu yang saya pelajari di PMR benar-benar berguna. Kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa langsung membantu orang lain."

Momen lain yang membuatnya sangat terharu terjadi saat menjadi penanggung jawab kegiatan pengukuhan anggota baru.

Di balik rasa bingung, tekanan, dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, acara akhirnya berjalan lancar hingga selesai.

"Sore itu saya menangis karena lega. Rasanya semua perjuangan terbayar ketika melihat acara berjalan dengan baik."

Selain aktif di sekolah, Firsta juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh serta membantu kegiatan skrining kesehatan bersama PMI Kabupaten Grobogan.

PMR Mengubah Cara Pandang Hidup

Menurut Firsta, pengalaman menjadi Ketua PMR telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia belajar bahwa tidak ada pemimpin yang bisa bekerja sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja sama, komunikasi, dan kesabaran.

Bersama PMR SMK Negeri 1 Purwodadi, ia juga berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara I Lomba Pertolongan Pertama, Juara Harapan III Lomba Cerdas Cermat Kemanusiaan, serta Juara III Lomba Pentas Seni Edukasi Donor Darah.

Salah satu inovasi yang paling ia banggakan adalah program PMR Peduli Aceh, yaitu penggalangan dana kemanusiaan yang melibatkan PMR, MPK, OSIS, dan seluruh warga sekolah. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui PMI Kabupaten Grobogan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap korban bencana.

Program tersebut menjadi bukti bahwa PMR bukan hanya aktif di lingkungan sekolah, tetapi juga mampu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.


Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Bergabung dengan PMR telah membawa perubahan besar dalam diri Firsta.

Ia yang dahulu kurang peduli terhadap kesehatan kini menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, tenang menghadapi situasi darurat, serta memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pertolongan pertama yang terus berkembang.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang tua, keluarga, para pembina, sahabat, dan teman-teman yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya.

Meski bercita-cita menjadi seorang dokter, Firsta yakin bahwa nilai-nilai yang ia pelajari di PMR akan menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Selamat menuntut ilmu. Jangan pernah takut belajar dan jangan malu bertanya ketika belum memahami sesuatu. Kemanusiaan adalah tentang memberikan pertolongan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Jadilah generasi yang peduli, karena kepedulian adalah kekuatan yang mampu mengubah masa depan."

Kisah Firstaletisha Arrazzaq Aliswa membuktikan bahwa pemimpin hebat tidak selalu lahir dari keberanian yang sempurna. Terkadang, mereka adalah orang-orang yang pernah takut, pernah menangis, namun memilih tetap melangkah. Dari keberanian itulah lahir semangat kemanusiaan yang akan terus menginspirasi generasi PMR untuk belajar, mengabdi, dan menjadi penolong bagi sesama.

 

Minggu, 05 Juli 2026

PMI Grobogan Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk 23 KK di Dusun Tanjungan

 


PMI Kabupaten Grobogan Distribusikan 5.000 Liter Air Bersih untuk 23 KK di Dusun Tanjungan

Grobogan, 5 Juli 2026 – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan kembali melaksanakan aksi kemanusiaan melalui distribusi bantuan air bersih bagi warga Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, pada Minggu (5/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WIB ini merupakan bagian dari upaya PMI Kabupaten Grobogan dalam membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih, terutama pada musim kemarau.

Dalam kegiatan tersebut, PMI Kabupaten Grobogan menyalurkan 5.000 liter air bersih menggunakan satu unit truk tangki kepada 23 kepala keluarga (KK) di Dusun Tanjungan. Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga untuk keperluan sehari-hari.


Proses distribusi dilakukan oleh tim PMI Kabupaten Grobogan yang terdiri atas Ahmad Dulrokhim (Staf PMI Kabupaten Grobogan), Andi Sugroho (Korps Sukarela/KSR PMI Kabupaten Grobogan), dan Roikhatul Mubarokah (KSR PMI Kabupaten Grobogan). Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan mendapat sambutan baik dari masyarakat penerima manfaat.

Kepala Seksi Pelayanan PMI Kabupaten Grobogan, Gesit Kristyawan, A.Ma, mengatakan bahwa distribusi air bersih merupakan salah satu layanan kemanusiaan yang rutin dilakukan PMI sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

"PMI akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat melalui berbagai pelayanan kemanusiaan, termasuk penyediaan air bersih bagi wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat dan memenuhi kebutuhan dasar mereka," ujarnya.

PMI Kabupaten Grobogan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Melalui pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional, PMI berkomitmen untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.


Rabu, 01 Juli 2026

Percaya Diri Mengubah Segalanya: Perjalanan Givara Dewi Merlyana Menjadi Pemimpin PMR

 


Dari Gadis Pemalu Menjadi Pemimpin Muda: Kisah Givara Dewi Merlyana Menginspirasi Generasi PMR Grobogan

Grobogan – Setiap pemimpin memiliki cerita tentang bagaimana mereka memulai. Ada yang lahir dengan rasa percaya diri tinggi, namun ada pula yang tumbuh melalui proses panjang penuh tantangan. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Givara Dewi Merlyana, siswi SMA Negeri 1 Gabus, yang berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang menginspirasi.

Perjalanan Givara di Palang Merah Remaja (PMR) dimulai sejak duduk di bangku kelas VII di MTs Negeri 2 Grobogan. Ketertarikannya terhadap dunia medis menjadi alasan utama bergabung dengan PMR. Baginya, organisasi ini bukan hanya tempat belajar pertolongan pertama, tetapi juga ruang untuk menambah wawasan, membangun karakter, dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Di balik semangatnya, ada sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan tersebut, yaitu Bapak Zakaria, guru sekaligus pembina PMR di MTs Negeri 2 Grobogan. Melalui bimbingan dan motivasinya, Givara semakin yakin bahwa PMR adalah tempat terbaik untuk mengembangkan potensi dirinya.

"Beliau selalu memberikan semangat dan mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan medis, tetapi juga tentang kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab," ungkap Givara.


Belajar Mengalahkan Rasa Minder

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan PMR menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan. Suasana latihan yang penuh semangat, kebersamaan, dan praktik langsung membuatnya semakin mencintai organisasi ini.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Saat menjadi anggota baru, Givara harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia masih harus mengikuti kegiatan madrasah sehingga waktu istirahatnya sangat terbatas.

Meski demikian, ia tidak pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari situlah ia belajar pentingnya disiplin dan manajemen waktu.

Pelajaran paling berharga yang diperolehnya adalah arti kerja sama tim. Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dapat diraih sendirian. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, dan semangat untuk saling membantu.

Perubahan terbesar dalam dirinya terjadi ketika ia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu.

"Saya pernah menjadi anak yang minder. Tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Dari situ perlahan rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.


Memimpin dengan Semangat Kemanusiaan

Keaktifan mengikuti berbagai pelatihan, keberanian tampil, serta konsistensinya dalam kegiatan PMR mengantarkan Givara dipercaya memimpin organisasi.

Saat pertama kali mendapatkan amanah sebagai pemimpin, ia mengaku sempat merasa ragu. Namun, ia memilih untuk mengalahkan keraguan itu dengan terus belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sebagai pemimpin, Givara memiliki visi mewujudkan PMR yang aktif, disiplin, berkarakter, dan berjiwa kemanusiaan. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menitikberatkan pada peningkatan keterampilan anggota, kerja sama tim, pelatihan rutin, penguatan empati, hingga kolaborasi bersama PMI dan sekolah.

Salah satu program yang paling ia banggakan adalah PMR Goes to School, yaitu kegiatan edukasi kesehatan dan pertolongan pertama kepada siswa SD dan SMP. Melalui program ini, anggota PMR tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menjadi pendidik bagi generasi yang lebih muda.

Agar anggota tetap aktif, Givara memilih pendekatan yang menyenangkan.

"PMR harus menjadi tempat yang seru. Banyak praktik langsung, banyak belajar bersama, sehingga anggota merasa nyaman dan ingin terus berkembang," katanya.

Menempa Mental Lewat Berbagai Tantangan

Menjadi pemimpin organisasi lintas sekolah tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah masih rendahnya minat siswa laki-laki untuk bergabung dengan PMR.

Namun, tantangan tersebut tidak pernah membuatnya menyerah.

"Saya selalu berpegang pada prinsip pantang menyerah. Kalau kita yakin dan percaya diri, pasti akan ada jalan untuk berkembang," tuturnya.

Dalam menghadapi konflik antaranggota, Givara lebih memilih jalan musyawarah. Baginya, setiap masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan keputusan yang adil.

Kemampuan mengatur waktu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia selalu membuat jadwal kegiatan agar tidak berbenturan dengan aktivitas sekolah maupun organisasi.

Bahkan, di tengah kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada adik-adik PMR sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi yang telah membesarkan dirinya.

Momen yang Mengubah Hidup

Di antara banyak kegiatan yang pernah diikuti, Konferensi Koordinator Kabupaten (Korkab) menjadi pengalaman yang paling berkesan. Dalam kegiatan tersebut, Givara menghadapi tantangan public speaking menggunakan bahasa Inggris yang benar-benar menguji mental dan kepercayaan dirinya.

Namun, justru dari tantangan itulah lahir salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Ia terpilih sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) PMR Kabupaten Grobogan.

"Saat nama saya diumumkan menjadi Korkab, rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bersyukur. Itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan," kenangnya.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan seperti Jumbara, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), konferensi PMR, pelatihan pertolongan pertama, pelayanan kesehatan remaja, hingga berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya, Givara juga sering bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Ia bersama tim PMR beberapa kali membantu siswa yang mengalami pingsan, dehidrasi, nyeri haid, hingga gangguan lambung (GERD), serta menjadi bagian dari tim medis saat upacara dan berbagai kegiatan sekolah.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa seorang relawan harus mampu tetap tenang dalam situasi darurat sekaligus memberikan rasa aman bagi orang yang membutuhkan pertolongan.



PMR Membentuk Masa Depan

Selama aktif di PMR, Givara merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari sosok yang pemalu, kini ia menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berbicara di depan umum, menjadi master of ceremony (MC), memimpin organisasi, hingga memiliki kemampuan pertolongan pertama yang semakin baik.

Karakter disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama tim juga tumbuh seiring perjalanan yang dijalani.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Orang tua menjadi penyemangat utama yang selalu memberikan motivasi, sementara para pembina menjadi mentor yang membimbing setiap langkahnya. Teman-teman PMR juga menjadi keluarga kedua yang saling mendukung dalam setiap kegiatan.

Meski bercita-cita menjadi seorang pengacara, Givara meyakini bahwa pengalaman di PMR akan menjadi bekal penting untuk masa depannya. Kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi, dan rasa percaya diri merupakan modal berharga yang akan selalu ia bawa.

Di akhir perbincangan, Givara menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Jangan pernah takut mencoba hal baru. Teruslah belajar, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah meremehkan diri sendiri. Percaya pada kemampuan yang kita miliki, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain."

Perjalanan Givara Dewi Merlyana membuktikan bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan tempat lahirnya calon-calon pemimpin muda yang memiliki kepedulian, keberanian, dan semangat kemanusiaan. Dari seorang remaja yang dahulu merasa minder, kini ia berdiri sebagai sosok yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus melayani, belajar, dan bertumbuh.

 

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

 


Berawal dari Sebuah Permintaan, Berakhir Menjadi Pengabdian

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

Grobogan – Tidak semua perjalanan kepemimpinan dimulai dari sebuah impian besar. Ada kalanya, langkah pertama justru berawal dari sebuah permintaan sederhana. Hal itulah yang dialami Felisa Anistia Ahme, siswi SMA Negeri 1 Pulokulon, yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026.

Lahir di Grobogan pada 3 Agustus 2008, Felisa mengaku awalnya sama sekali tidak mengenal keberadaan PMR Markas Kabupaten Grobogan. Perjalanannya dimulai ketika Ketua PMR di sekolahnya meminta dirinya menjadi salah satu perwakilan SMA Negeri 1 Pulokulon untuk bergabung di PMR Markas.

"Awalnya saya bahkan tidak tahu kalau ada PMR Markas. Saya hanya diminta menjadi perwakilan sekolah. Dari situlah perjalanan saya dimulai hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan," ungkap Felisa.

Sejak bergabung, Felisa merasakan bahwa PMR bukan sekadar organisasi, tetapi menjadi tempat untuk belajar, berkembang, dan mengabdi kepada sesama. Berbagai pengalaman berharga ia dapatkan, mulai dari belajar kepemimpinan, membangun komunikasi, hingga bekerja sama dengan anggota PMR dari puluhan sekolah di Kabupaten Grobogan.

Salah satu kegiatan yang paling membekas di hatinya adalah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah yang sangat efektif untuk membentuk karakter seorang relawan muda.

"LDK mengajarkan kami tentang kerja sama, melatih mental, meningkatkan fisik, sekaligus membangun rasa tanggung jawab sebagai seorang anggota PMR," tuturnya.

Menjadi pemimpin tentu bukan tanpa tantangan. Sebagai Ketua PMR Markas, Felisa harus mengoordinasikan anggota dari berbagai sekolah yang memiliki karakter, latar belakang, dan kesibukan yang berbeda-beda.

Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah ketika kegiatan membutuhkan kontribusi dana pribadi dari peserta. Tidak semua anggota memiliki kondisi yang sama sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik dan rasa saling memahami.

"Kalau mengatur teman-teman sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi setiap orang memiliki sifat yang berbeda. Sebagai ketua saya harus bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan mereka agar semua tetap bisa berjalan bersama," jelasnya.

Di balik kesibukannya sebagai pelajar dan pengurus PMR Markas, Felisa juga memiliki keinginan besar untuk lebih banyak membantu kegiatan kemanusiaan di PMI Kabupaten Grobogan. Namun, jarak rumah menuju Markas PMI yang memerlukan waktu lebih dari 30 menit sering menjadi kendala sehingga ia tidak selalu dapat hadir setiap saat ketika dibutuhkan.

Meski demikian, semangatnya untuk terus mengabdi tidak pernah surut. Baginya, menjadi bagian dari PMR adalah sebuah kebanggaan yang memberikan banyak pengalaman hidup yang tidak bisa diperoleh di tempat lain.

"Anak PMR itu keren karena bisa membantu banyak orang. Pengalamannya juga luar biasa, apalagi kalau sudah bergabung di PMR Markas Kabupaten Grobogan. Kita belajar menjadi relawan yang peduli, bertanggung jawab, dan siap hadir untuk sesama," ujarnya.

Di akhir ceritanya, Felisa memberikan pesan kepada seluruh anggota PMR, khususnya generasi muda yang baru bergabung.

"Jangan pernah patah semangat. Teruslah aktif mengikuti kegiatan PMR karena di sinilah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus bisa bermanfaat bagi orang lain. PMR bukan hanya organisasi, tetapi keluarga yang mengajarkan arti kemanusiaan. PMR di hati."

Kisah Felisa menjadi bukti bahwa kesempatan besar sering kali datang dari langkah kecil yang mungkin tidak pernah kita rencanakan. Dengan semangat belajar, kemauan untuk melayani, dan kepedulian terhadap sesama, seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Pulokulon mampu tumbuh menjadi pemimpin muda yang menginspirasi. Semoga semangat pengabdian yang ditunjukkan Felisa dapat menjadi motivasi bagi seluruh anggota Palang Merah Remaja untuk terus berkarya, mengembangkan diri, dan menebarkan nilai-nilai kemanusiaan di mana pun berada.

 

Sabtu, 27 Juni 2026

Bulan Dana PMI Grobogan 2026 Resmi Dimulai, Wujudkan Kepedulian Bersama untuk Aksi Kemanusiaan

 


Bulan Dana PMI Grobogan 2026 Resmi Dimulai, Wujudkan Kepedulian Bersama untuk Aksi Kemanusiaan

Grobogan, 26 Juni 2026 – Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama kembali digaungkan melalui pembukaan Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Grobogan ini menandai dimulainya gerakan penghimpunan dana kemanusiaan yang akan dilaksanakan selama beberapa bulan ke depan dengan target sebesar Rp1,58 miliar.

Peluncuran Bulan Dana PMI menjadi momentum penting untuk mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum agar berpartisipasi dalam mendukung berbagai program kemanusiaan yang dijalankan PMI.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, relawan, serta para mitra PMI hadir sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat gerakan kemanusiaan di Kabupaten Grobogan.


Dana yang berhasil dihimpun nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai layanan kemanusiaan PMI, antara lain pelayanan donor darah, bantuan bagi korban bencana, pelayanan ambulans, pembinaan relawan, pembinaan Palang Merah Remaja (PMR), pelayanan kesehatan masyarakat, serta berbagai kegiatan sosial lainnya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Ketua Panitia Bulan Dana PMI Kabupaten Grobogan Tahun 2026 menyampaikan bahwa keberhasilan Bulan Dana tidak hanya diukur dari besarnya dana yang terkumpul, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk terus berbagi dan peduli terhadap sesama.

"Setiap rupiah yang disumbangkan masyarakat merupakan investasi kemanusiaan. Dana tersebut akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan kemanusiaan yang cepat, tepat, dan tanpa membedakan latar belakang penerima manfaat."

Bulan Dana PMI merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi operasional pelayanan kemanusiaan PMI. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana menjadi komitmen utama sehingga setiap donasi dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

PMI Kabupaten Grobogan berharap seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi aktif menyukseskan Bulan Dana PMI Tahun 2026. Dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong, setiap kontribusi yang diberikan akan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

"Satu Donasi, Sejuta Harapan. Bersama PMI, Kita Hadir untuk Kemanusiaan."

Seminar dan Edukasi PMR Kabupaten Grobogan Bekali 135 Anggota PMR tentang Pencegahan Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual

 


135 Anggota PMR Ikuti Seminar Edukasi Pencegahan Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual di PMI Kabupaten Grobogan

Purwodadi, 27 Juni 2026 – Sebanyak 135 anggota Palang Merah Remaja (PMR) Madya dan PMR Wira dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan mengikuti kegiatan Seminar dan Edukasi PMR Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS) PMI Kabupaten Grobogan di Aula Markas PMI Kabupaten Grobogan, Sabtu (27/6).

Mengusung tema "Pendidikan Pencegahan Perkawinan Anak (Nikah Dini) dan Kekerasan Seksual pada Remaja", kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan serta kesadaran generasi muda mengenai pentingnya perlindungan diri, pencegahan perkawinan anak, dan upaya mencegah berbagai bentuk kekerasan seksual di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Markas PMI Kabupaten Grobogan, Bapak Djasman, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa anggota PMR tidak hanya dituntut memiliki keterampilan pertolongan pertama dan kepalangmerahan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang baik mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi remaja saat ini.

"PMR adalah pelopor perilaku hidup sehat dan agen perubahan di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini kami berharap para anggota PMR mampu menjadi contoh sekaligus menyebarkan edukasi kepada teman sebaya mengenai bahaya perkawinan anak dan kekerasan seksual," ujarnya.

Materi seminar disampaikan oleh Dr. Siti Mutmainah, S.Sos., S.H., M.H., yang membahas berbagai aspek hukum, sosial, dan dampak psikologis dari perkawinan anak serta kekerasan seksual terhadap remaja. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai perlindungan hukum bagi anak, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta langkah-langkah pencegahan dan penanganan apabila terjadi tindak kekerasan seksual. Materi juga mengulas bahwa praktik perkawinan anak merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak dan bertentangan dengan perlindungan hak anak berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Seminar berlangsung secara interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama pada sesi diskusi dan tanya jawab, di mana banyak peserta menyampaikan pertanyaan seputar pergaulan remaja, perlindungan hukum, serta upaya menjaga diri dari berbagai bentuk kekerasan.


Selain memperoleh materi edukatif, seluruh peserta juga mendapatkan E-Sertifikat resmi yang diterbitkan oleh PMI Kabupaten Grobogan, materi seminar, konsumsi, serta kesempatan memperluas jejaring antaranggota PMR dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan.

Ketua Panitia menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu membentuk karakter anggota PMR yang lebih peduli terhadap isu perlindungan anak dan remaja.

"Kami berharap seluruh peserta dapat menjadi pelopor dan pendidik sebaya di sekolah masing-masing. Ilmu yang diperoleh hari ini diharapkan tidak berhenti di ruang seminar, tetapi dapat disebarluaskan kepada teman-teman sehingga semakin banyak remaja yang memahami pentingnya menjaga diri, menghormati sesama, dan berani melaporkan apabila terjadi tindak kekerasan," ujarnya.


Melalui kegiatan ini, PMI Kabupaten Grobogan bersama FORPIS PMI Kabupaten Grobogan menegaskan komitmennya dalam membangun generasi muda yang sehat, berkarakter, dan peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja sekaligus mendukung terwujudnya generasi yang berkualitas, berprestasi, dan bebas dari perkawinan anak maupun kekerasan seksual.

Remaja Peduli, Remaja Terlindungi, Masa Depan Gemilang!