This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

iklan

iklan

Rabu, 01 Juli 2026

Percaya Diri Mengubah Segalanya: Perjalanan Givara Dewi Merlyana Menjadi Pemimpin PMR

 


Dari Gadis Pemalu Menjadi Pemimpin Muda: Kisah Givara Dewi Merlyana Menginspirasi Generasi PMR Grobogan

Grobogan – Setiap pemimpin memiliki cerita tentang bagaimana mereka memulai. Ada yang lahir dengan rasa percaya diri tinggi, namun ada pula yang tumbuh melalui proses panjang penuh tantangan. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Givara Dewi Merlyana, siswi SMA Negeri 1 Gabus, yang berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang menginspirasi.

Perjalanan Givara di Palang Merah Remaja (PMR) dimulai sejak duduk di bangku kelas VII di MTs Negeri 2 Grobogan. Ketertarikannya terhadap dunia medis menjadi alasan utama bergabung dengan PMR. Baginya, organisasi ini bukan hanya tempat belajar pertolongan pertama, tetapi juga ruang untuk menambah wawasan, membangun karakter, dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Di balik semangatnya, ada sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan tersebut, yaitu Bapak Zakaria, guru sekaligus pembina PMR di MTs Negeri 2 Grobogan. Melalui bimbingan dan motivasinya, Givara semakin yakin bahwa PMR adalah tempat terbaik untuk mengembangkan potensi dirinya.

"Beliau selalu memberikan semangat dan mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang kemampuan medis, tetapi juga tentang kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab," ungkap Givara.


Belajar Mengalahkan Rasa Minder

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan PMR menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan. Suasana latihan yang penuh semangat, kebersamaan, dan praktik langsung membuatnya semakin mencintai organisasi ini.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Saat menjadi anggota baru, Givara harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia masih harus mengikuti kegiatan madrasah sehingga waktu istirahatnya sangat terbatas.

Meski demikian, ia tidak pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari situlah ia belajar pentingnya disiplin dan manajemen waktu.

Pelajaran paling berharga yang diperolehnya adalah arti kerja sama tim. Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dapat diraih sendirian. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, dan semangat untuk saling membantu.

Perubahan terbesar dalam dirinya terjadi ketika ia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu.

"Saya pernah menjadi anak yang minder. Tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Dari situ perlahan rasa percaya diri mulai tumbuh," ujarnya.


Memimpin dengan Semangat Kemanusiaan

Keaktifan mengikuti berbagai pelatihan, keberanian tampil, serta konsistensinya dalam kegiatan PMR mengantarkan Givara dipercaya memimpin organisasi.

Saat pertama kali mendapatkan amanah sebagai pemimpin, ia mengaku sempat merasa ragu. Namun, ia memilih untuk mengalahkan keraguan itu dengan terus belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sebagai pemimpin, Givara memiliki visi mewujudkan PMR yang aktif, disiplin, berkarakter, dan berjiwa kemanusiaan. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menitikberatkan pada peningkatan keterampilan anggota, kerja sama tim, pelatihan rutin, penguatan empati, hingga kolaborasi bersama PMI dan sekolah.

Salah satu program yang paling ia banggakan adalah PMR Goes to School, yaitu kegiatan edukasi kesehatan dan pertolongan pertama kepada siswa SD dan SMP. Melalui program ini, anggota PMR tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menjadi pendidik bagi generasi yang lebih muda.

Agar anggota tetap aktif, Givara memilih pendekatan yang menyenangkan.

"PMR harus menjadi tempat yang seru. Banyak praktik langsung, banyak belajar bersama, sehingga anggota merasa nyaman dan ingin terus berkembang," katanya.

Menempa Mental Lewat Berbagai Tantangan

Menjadi pemimpin organisasi lintas sekolah tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah masih rendahnya minat siswa laki-laki untuk bergabung dengan PMR.

Namun, tantangan tersebut tidak pernah membuatnya menyerah.

"Saya selalu berpegang pada prinsip pantang menyerah. Kalau kita yakin dan percaya diri, pasti akan ada jalan untuk berkembang," tuturnya.

Dalam menghadapi konflik antaranggota, Givara lebih memilih jalan musyawarah. Baginya, setiap masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan keputusan yang adil.

Kemampuan mengatur waktu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia selalu membuat jadwal kegiatan agar tidak berbenturan dengan aktivitas sekolah maupun organisasi.

Bahkan, di tengah kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada adik-adik PMR sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi yang telah membesarkan dirinya.

Momen yang Mengubah Hidup

Di antara banyak kegiatan yang pernah diikuti, Konferensi Koordinator Kabupaten (Korkab) menjadi pengalaman yang paling berkesan. Dalam kegiatan tersebut, Givara menghadapi tantangan public speaking menggunakan bahasa Inggris yang benar-benar menguji mental dan kepercayaan dirinya.

Namun, justru dari tantangan itulah lahir salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Ia terpilih sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) PMR Kabupaten Grobogan.

"Saat nama saya diumumkan menjadi Korkab, rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bersyukur. Itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan," kenangnya.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan seperti Jumbara, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), konferensi PMR, pelatihan pertolongan pertama, pelayanan kesehatan remaja, hingga berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya, Givara juga sering bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Ia bersama tim PMR beberapa kali membantu siswa yang mengalami pingsan, dehidrasi, nyeri haid, hingga gangguan lambung (GERD), serta menjadi bagian dari tim medis saat upacara dan berbagai kegiatan sekolah.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa seorang relawan harus mampu tetap tenang dalam situasi darurat sekaligus memberikan rasa aman bagi orang yang membutuhkan pertolongan.



PMR Membentuk Masa Depan

Selama aktif di PMR, Givara merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari sosok yang pemalu, kini ia menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berbicara di depan umum, menjadi master of ceremony (MC), memimpin organisasi, hingga memiliki kemampuan pertolongan pertama yang semakin baik.

Karakter disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama tim juga tumbuh seiring perjalanan yang dijalani.

Semua itu tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Orang tua menjadi penyemangat utama yang selalu memberikan motivasi, sementara para pembina menjadi mentor yang membimbing setiap langkahnya. Teman-teman PMR juga menjadi keluarga kedua yang saling mendukung dalam setiap kegiatan.

Meski bercita-cita menjadi seorang pengacara, Givara meyakini bahwa pengalaman di PMR akan menjadi bekal penting untuk masa depannya. Kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi, dan rasa percaya diri merupakan modal berharga yang akan selalu ia bawa.

Di akhir perbincangan, Givara menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi seluruh anggota PMR dan pelajar Indonesia.

"Jangan pernah takut mencoba hal baru. Teruslah belajar, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah meremehkan diri sendiri. Percaya pada kemampuan yang kita miliki, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain."

Perjalanan Givara Dewi Merlyana membuktikan bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan tempat lahirnya calon-calon pemimpin muda yang memiliki kepedulian, keberanian, dan semangat kemanusiaan. Dari seorang remaja yang dahulu merasa minder, kini ia berdiri sebagai sosok yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus melayani, belajar, dan bertumbuh.

 

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

 


Berawal dari Sebuah Permintaan, Berakhir Menjadi Pengabdian

Kisah Inspiratif Felisa Anistia Ahme, Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026

Grobogan – Tidak semua perjalanan kepemimpinan dimulai dari sebuah impian besar. Ada kalanya, langkah pertama justru berawal dari sebuah permintaan sederhana. Hal itulah yang dialami Felisa Anistia Ahme, siswi SMA Negeri 1 Pulokulon, yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan Periode 2025–2026.

Lahir di Grobogan pada 3 Agustus 2008, Felisa mengaku awalnya sama sekali tidak mengenal keberadaan PMR Markas Kabupaten Grobogan. Perjalanannya dimulai ketika Ketua PMR di sekolahnya meminta dirinya menjadi salah satu perwakilan SMA Negeri 1 Pulokulon untuk bergabung di PMR Markas.

"Awalnya saya bahkan tidak tahu kalau ada PMR Markas. Saya hanya diminta menjadi perwakilan sekolah. Dari situlah perjalanan saya dimulai hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PMR Markas Kabupaten Grobogan," ungkap Felisa.

Sejak bergabung, Felisa merasakan bahwa PMR bukan sekadar organisasi, tetapi menjadi tempat untuk belajar, berkembang, dan mengabdi kepada sesama. Berbagai pengalaman berharga ia dapatkan, mulai dari belajar kepemimpinan, membangun komunikasi, hingga bekerja sama dengan anggota PMR dari puluhan sekolah di Kabupaten Grobogan.

Salah satu kegiatan yang paling membekas di hatinya adalah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah yang sangat efektif untuk membentuk karakter seorang relawan muda.

"LDK mengajarkan kami tentang kerja sama, melatih mental, meningkatkan fisik, sekaligus membangun rasa tanggung jawab sebagai seorang anggota PMR," tuturnya.

Menjadi pemimpin tentu bukan tanpa tantangan. Sebagai Ketua PMR Markas, Felisa harus mengoordinasikan anggota dari berbagai sekolah yang memiliki karakter, latar belakang, dan kesibukan yang berbeda-beda.

Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah ketika kegiatan membutuhkan kontribusi dana pribadi dari peserta. Tidak semua anggota memiliki kondisi yang sama sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik dan rasa saling memahami.

"Kalau mengatur teman-teman sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi setiap orang memiliki sifat yang berbeda. Sebagai ketua saya harus bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan mereka agar semua tetap bisa berjalan bersama," jelasnya.

Di balik kesibukannya sebagai pelajar dan pengurus PMR Markas, Felisa juga memiliki keinginan besar untuk lebih banyak membantu kegiatan kemanusiaan di PMI Kabupaten Grobogan. Namun, jarak rumah menuju Markas PMI yang memerlukan waktu lebih dari 30 menit sering menjadi kendala sehingga ia tidak selalu dapat hadir setiap saat ketika dibutuhkan.

Meski demikian, semangatnya untuk terus mengabdi tidak pernah surut. Baginya, menjadi bagian dari PMR adalah sebuah kebanggaan yang memberikan banyak pengalaman hidup yang tidak bisa diperoleh di tempat lain.

"Anak PMR itu keren karena bisa membantu banyak orang. Pengalamannya juga luar biasa, apalagi kalau sudah bergabung di PMR Markas Kabupaten Grobogan. Kita belajar menjadi relawan yang peduli, bertanggung jawab, dan siap hadir untuk sesama," ujarnya.

Di akhir ceritanya, Felisa memberikan pesan kepada seluruh anggota PMR, khususnya generasi muda yang baru bergabung.

"Jangan pernah patah semangat. Teruslah aktif mengikuti kegiatan PMR karena di sinilah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus bisa bermanfaat bagi orang lain. PMR bukan hanya organisasi, tetapi keluarga yang mengajarkan arti kemanusiaan. PMR di hati."

Kisah Felisa menjadi bukti bahwa kesempatan besar sering kali datang dari langkah kecil yang mungkin tidak pernah kita rencanakan. Dengan semangat belajar, kemauan untuk melayani, dan kepedulian terhadap sesama, seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Pulokulon mampu tumbuh menjadi pemimpin muda yang menginspirasi. Semoga semangat pengabdian yang ditunjukkan Felisa dapat menjadi motivasi bagi seluruh anggota Palang Merah Remaja untuk terus berkarya, mengembangkan diri, dan menebarkan nilai-nilai kemanusiaan di mana pun berada.