iklan

iklan

Selasa, 23 Juni 2026

Latihan Gabungan PMR, Tiga Sekolah Tingkatkan Keterampilan Perawatan Keluarga

 


Latihan Gabungan PMR Tiga Sekolah Tingkatkan Keterampilan Perawatan Keluarga

47 Anggota PMR dari SMA N 1 Gubug, MAN 2 Grobogan, dan SMK Yasiha Gubug Ikuti Pelatihan Praktik Penggantian Sprei Pasien Bersama PMI Kabupaten Grobogan

GUBUG — Semangat belajar dan jiwa kemanusiaan tampak menyala dalam kegiatan latihan gabungan Palang Merah Remaja (PMR) yang mempertemukan anggota PMR dari SMA Negeri 1 Gubug, MAN 2 Grobogan, dan SMK Yasiha Gubug. Kegiatan yang digelar di SMA Negeri 1 Gubug pada Minggu, 21 Juni 2026 ini diikuti oleh 47 peserta dan difokuskan pada peningkatan keterampilan Perawatan Keluarga, khususnya praktik mengganti sprei tanpa pasien dan mengganti sprei dengan pasien di tempat tidur.

Latihan gabungan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota PMR lintas sekolah untuk memperkuat pemahaman, keterampilan, dan kesiapsiagaan dalam pelayanan kemanusiaan. Selain sebagai sarana pengembangan kapasitas anggota PMR, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat kolaborasi, serta membangun solidaritas antarremaja relawan di wilayah Kecamatan Gubug dan sekitarnya.

Materi pelatihan disampaikan langsung oleh pemateri dari PMI Kabupaten Grobogan, yakni Ari Arwani dan Ahmad Kasan Manuri. Dalam sesi materi, keduanya menjelaskan pentingnya keterampilan perawatan keluarga sebagai bagian dari pendidikan dasar kepalangmerahan yang harus dimiliki anggota PMR. Peserta dibekali pemahaman bahwa menjaga kebersihan tempat tidur pasien bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, mencegah infeksi, dan memberikan pelayanan yang manusiawi kepada orang yang sedang sakit.


Para pemateri memaparkan prosedur penggantian sprei secara runtut dan sesuai standar kesehatan, mulai dari persiapan alat dan bahan, kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga teknik penggantian sprei yang aman dan nyaman bagi pasien. Materi tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi juga diperkuat dengan demonstrasi langsung agar peserta dapat memahami setiap langkah secara lebih jelas dan aplikatif.

Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah membedakan teknik mengganti sprei tanpa pasien dan mengganti sprei dengan pasien di tempat tidur. Pada praktik penggantian sprei dengan pasien, peserta diajarkan bagaimana menjaga kenyamanan pasien, memperhatikan posisi tubuh pasien, menjaga privasi, serta tetap menerapkan prinsip keselamatan dan kebersihan selama proses berlangsung. Materi ini menjadi pengalaman penting bagi anggota PMR karena mendekatkan mereka pada situasi pelayanan yang nyata di lapangan.

Setelah sesi demonstrasi, seluruh peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung keterampilan yang telah dipelajari. Praktik dilakukan secara bergantian dengan pendampingan pemateri, dimulai dari menyiapkan alat, melakukan prosedur cuci tangan, menggunakan APD, hingga melaksanakan penggantian sprei sesuai urutan yang benar. Selama sesi praktik berlangsung, suasana pelatihan tampak aktif, interaktif, dan penuh semangat. Peserta tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan saling membantu dalam memahami teknik yang diajarkan.

Antusiasme peserta terlihat dari kesungguhan mereka saat mencoba setiap tahapan praktik. Beberapa peserta mengaku baru pertama kali mempelajari teknik penggantian sprei pasien secara langsung, sehingga kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Selain menambah wawasan, latihan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, empati, dan kerja sama—nilai-nilai yang sangat penting dalam gerakan kepalangmerahan.

Melalui kegiatan latihan gabungan ini, diharapkan anggota PMR dari ketiga sekolah tidak hanya memahami teori pertolongan pertama dan perawatan keluarga, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, maupun saat memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa PMR bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, melainkan wadah pembinaan generasi muda yang peduli, terampil, tangguh, dan siap hadir membantu sesama.

Dengan terlaksananya latihan gabungan ini, PMI Kabupaten Grobogan bersama pembina PMR dari masing-masing sekolah berharap sinergi pembinaan PMR di wilayah Grobogan dapat terus diperkuat melalui kegiatan-kegiatan bersama yang edukatif, aplikatif, dan berkelanjutan. Semangat kebersamaan yang terbangun dalam latihan ini diharapkan menjadi modal penting dalam mencetak relawan muda yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga sigap dalam tindakan kemanusiaan.

0 comments:

Posting Komentar